Jakarta, Gesuri.id - Megawati Soekarnoputri sangat berduka dan seketika itu juga secara resmi dan terbuka beliau langsung mengucapkan belasungkawa atas syahidnya Ayatullah Ali Hosseini Khamenei, akibat tindakaan semena-mena agresi Zionis Israel dan Amerika terhadap kehormatan kedaulatan Republik Islam Iran.
Dan hanya selang beberapa hari dalam kurun waktu yang singkat, beliau juga sekaligus melayangkan surat ucapan selamat, walaupun masih dalam suasana duka mendalam setelah masa krisis Republik Islam, ketika terpilihnya pimpinan tertinggi Republik Islam Iran yang baru Ayatullah Mojtaba Khamenei.
Mata dunia telah menyaksikan saat ini, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri bukan saja hanya seorang putri Bung Karno, tapi yang paling krusial beliau menegaskan dirinya sebagai patron penerus spirit perjuangan Sang Proklamator.
Krisis dunia saat ini sangat membutuhkan hadirnya kembali spirit sejarah arah perjuangan Bung Karno yang sangat spektakuler pada saat merealisasikan Konferensi Asia Afrika pada Tahun 1955, untuk sebuah tujuan visi kolosal dalam mewujudkan cita-cita tatanan keadilan global.
Peradaban dunia telah mencatat dengan tinta emasnya bagaimana pada masa itu Bung Karno mendeklarasikan rumusan dan komitmen Dasasila Bandung bagi masyarakat dunia internasional, terkhusus bagi negara-negara Asia Afrika yang telah menjadi korban kejahatan keserakahan negara penjajah.
Mengulang kembali ungkapan Bung Karno yang berkata kepada salah seorang presiden Amerika Serikat pada masa itu, "Go to hell with your aid", statement itu adalah sebuah penegasan dari seorang pemimpin visioner yang memahami dan sekaligus sangat anti terhadap arogansi negara-negara berwatak kolonialis. Kalau direnungkan lebih dalam, ini bukan hanya sekedar pernyataan tegas tapi sekaligus merupakan sebuah pesan 'edukatif' kepada semua pihak, terutama bagi generasi penerus bangsa Indonesia. Karena faktanya pergaulan global hingga saat ini tidak pernah aman dari perilaku imperialisme atau segala upaya hegemoni negara-negara berwatak agresor.
Berbicara posisi Indonesia terhadap karakter imperialisme Amerika dan sekutunya Zionis Israel yang terus saja bermetamorfosa, bukanlah hal baru di negeri kita. Maka pertimbangannya pada konteks tersebut bahwa, keberlangsungan kesadaran atas kedalaman 'makna merdeka' menjadi sangat penting dan sekaligus merupakan tanggung jawab kemanusiaan bagi semua pihak. Untuk merawat kesadaran kolektif kita dalam nadi kehidupan sebagai bangsa terhormat dan berdaulat, di hadapan suasana pekatnya polusi arogansi hegemoni Amerika-Zionis Israel.
Sacred medicine bundles dan ironi genosida
Penjelasan harfiahnya sacred medicine bundles adalah semacam kumpulan benda-benda yang dibungkus kulit hewan, diyakini memiliki kekuatan 'bertuah' sebagai media koneksi spiritual manusia dengan leluhurnya dalam pusaran keberkahan Sang Pencipta. Kantung ini biasanya berisi barang yang dikumpulkan selama vision quest (pencarian penglihatan spiritual), seperti sage, rumput manis, akar, atau bulu elang. Fungsinya lainnya adalah media penyembuhan, keberuntungan atau perlindungan, dan benda ini salah satu bagian simbol ritual kearifan suku Native American, pemilik sah tanah air daratan benua Amerika yang sebenarnya. Mereka adalah penduduk asli sebelum deklarasi semu berdirinya konstitusi pemerintahan Amerika Serikat oleh kolonialisme pendatang dari Eropa.
Bundel atau kantung ini biasanya dipegang oleh tokoh-tokoh dari komunitas suku yang dinilai memiliki kearifan, baik itu seorang pria maupun wanita suku Native American untuk digunakan saat melaksanakan ritual spiritual.
Dalam pusaran elegi romantiknya sacred medicine bundle adalah barang paling berharga yang harus disembunyikan dengan cara ditanam di bawah tanah, ketika suku-suku Native American menyadari situasinya saat terancam oleh agresi genosida yang dilakukan para pendatang dari Eropa. Simbol sacred medicine bundles bukanlah sekedar benda yang berfungi pada saat pelaksanaan ritual spiritual saja, tapi dari konteks filosofisnya telah menjadi narasi simbolik sejarah kehormatan milik penduduk asli Amerika, dalam upaya menjaga warisan identitas prinsip mereka turun temurun sejak ratusan tahun lalu, bahkan sebelum kedatangan kolonialisme bangsa Eropa pada masa abad ke-15.
Menyembunyikan ke dalam tanah bermakna agar tidak ditemukan oleh para penjajah. Artinya, suku asli Amerika sangat tidak rela jika dalam perlawanannya yang sangat beresiko tersebut dan ketika suku mereka pun harus punah, mereka tidak rela identitas prinsip kearifannya dilecehkan sebagaimana mereka sangat tidak rela sejengkal tanah hak miliknya dirampas walaupun tebusannya adalah kematian yang tragis.
Tercatat suku asli benua Amerika yang telah punah, antara lain yakni, suku Yahi di California, suku Beothuk, dan yang nyaris punah suku Cherokee dan beberapa suku lainnya yang menurun drastis jumlahnya, akibat tindakan genosida dan relokasi paksa oleh perilaku khas kolonialisme bangsa Eropa. Kenyataan ini sama persis seperti perilaku kejahatan agresi Zionis Israel terhadap bangsa Palestina.
Sacred medicine bundle juga akhirnya bukanlah sekedar bagian narasi historis, tapi kekuatannya hari ini telah membuka fakta kejahatan kolonialisme, imperialisme, yang merupakan penyakit kronis watak hegemoni.
Tabir yang menyelimuti narasi seputar sejarah sacred medicine bundle pun telah terkuak. Dari beberapa pengakuan jujur pejabat pemerintah Amerika Serikat, seperti salah satunya dari Gubernur California, Gavin Newsom pada tahun 2019, yang telah meminta maaf dan mengakui tindakan dalam perjalanan sejarah pemerintahnya telah melakukan kejahatan genosida. Meskipun secara resmi pemerintah federal Amerika belum juga bersedia mengakui secara terbuka atas kekejaman tersebut sebagai kejahatan kemanusiaan berat namun fakta telah berbica lain, mengakibatkan punahnya beberapa suku asli American Native.
Setidaknya Itulah paparan singkat tentang akar sejarah eksistensi negara agresor yang bernama Amerika, silahkan pembaca menilainya sendiri!.
Ketika diam bukan emas
Agresi Zionis Israel-Amerika terhadap kedaulatan Republik Islam Iran merupakan pelanggaran atau kejahatan serius, sayangnya selalu tergiring atau direduksi pada pembacaan aspek ekonomi seputar resiko perang semata, sehingga mengaburkan arti perjuangan atas nilai-nilai luhur kemanusiaan dan prinsip keadilan itu sendiri. Kehormatan kedaulatan setiap negara tidak bisa diukur apalagi dikalkulasi hanya dari sudut perspektif kepentingan kelangsungan stabilitas ekonomi belaka, tanpa sedikit pun memberikan ruang kesempatan akan betapa pentingnya logika nurani kemanusiaan dan keadilan itu berbicara, untuk menjelaskan maknanya dalam pusaran eskalasi konflik yang sedang terjadi.
Dalam konteks itu penulis mencoba membaca dengan sangat teliti kata demi kata, dari awal hingga akhir paragraf dari seluruh kalimat isi surat resmi Megawati Soekarnoputri kepada pemimpin agung Republik Islam Iran yang baru terpilih, Ayatullah Motjaba Khemenei yang terpublikasi beberapa hari lalu. Garis besarnya bahwa, muatan surat itu tentang penegasan kembali filosofi kearifan nilai-nilai Pancasila dan UUD 45 sebagai asas konstitusi bangsa Indonesia dan sejatinya ekuivalen dengan muatan nilai-nilai luhur kontsitusi negara Republik Islam Iran.
Pada sisi lain yang lebih luas Ibu Megawati ingin mengajak dunia internasional untuk bersikap adil atas apa yang terjadi dalam eskalasi global hari ini, yang harus dipahami secara objektif pada logika keadilan dalam keniscayaan rasionalisasinya. Bahwa dukungan atas Republik Islam itu sesungguhnya berangkat dari sebuah prinsip yang mustahil bisa diabaikan karena alasan atau alibi apapun, apalagi hanya karena tekanan kepentingan pragmatisme.
Sebuah analogi sederhana, jika "misalnya" Republik Islam Iran harus diam atau tunduk atas perilaku semena-mena tindakan agresi yang telah menimpa kehormatan kedaulatan negaranya, maka niscaya wajah kejahatan negara imperialis seperti mendapatkan ruang pengakuan sebagai legitimasinya. Dan saat itulah kenapa diam itu bukan emas, karena justru itu akan menjadi faktor pendukung agresi yang memicu terjadinya malapetaka kemanusiaan yang akan berulang di kemudian hari.
Akhirul kalam, sekali lagi bahwa muatan surat dukungan Megawati Soekarnoputri kepada pemimpin tertinggi Republik Islam Iran Ayatullah Mojtaba Khamenei adalah ketegasan prinsip untuk berperan aktif menjaga makna terdalam dari arti berkeadilan, dan sekaligus sebagai penanda sinyal titik balik perubahan peradaban global. Sebuah sikap yang sangat terhormat dan terang benderang bagaikan mercusuar pencerahan dan sekaligus perlawanan, di saat dunia lebih memilih stabilitas semu dalam kegelapan cengkraman penjajahan gaya baru negara-negara agresor.

















































































