Ikuti Kami

Kanti Paparkan Posisi Perempuan Dalam Sejarah Islam

Mereka yang selalu mengaku mengikuti "sunnah Nabi" seakan gegar otak...

Kanti Paparkan Posisi Perempuan Dalam Sejarah Islam
Sekjen Satu Pena, Kanti W Janis. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Gesuri.id - Sekjen Satu Pena, Kanti W Janis memaparkan sejarah yang sebenarnya tentang hubungan Nabi Muhammad SAW dengan istri atau perempuan.

Baca: Eko Suwanto: Peran & Tanggungjawab Perempuan Makin Besar

Kanti menyatakan, mereka yang selalu mengaku mengikuti "sunnah Nabi" seakan gegar otak tentang hubungan Nabi Muhammad dengan istri pertamanya, Khadijah bin Khuwaylid.

Menurut Kanti, hubungan keduanya memperlihatkan dengan jelas perlakuan Nabi Muhammad terhadap istri dan perempuan.

"Tapi para 'pengasong agama' sengaja melupakan siapa Khadijah, bagaimana hubungannya dengan Nabi. Padahal dia adalah perempuan pertama yang dinikahi. Seorang perempuan saudagar kaya yang menjadi penyokong utama di dalam keluarga," papar Kanti dalam akun Facebooknya, baru-baru ini.

Kanti, yang juga anggota Balitbang PDI Perjuangan ini melanjutkan, beberapa sumber menyatakan bahwa Khadijah yang usianya 13-15 tahun lebih tua dari Nabi melamar Nabi Muhammad lebih dahulu. Khadijah dicintai oleh Nabi dalam pernikahan monogami selama 28 tahun.

"Kemudian Khadijah meninggal lebih dulu, dan kemudian Nabi Muhammad baru menikah lagi setelah melalui 2 tahun masa berkabung. Nabi menjalani pernikahan poligini total hanya 8 tahun," ungkap Kanti. 

Dan, lanjut Kanti, Nabi Muhammad pun tidak sembarangan berpoligami. Nabi Muhammad juga melakukan poligami sama sekali bukan berlandaskan alasan remeh seperti "menghindari zinah", atau bahkan "melepas syahwat supaya tetap halal".

Kanti mengungkapkan, di antara istri-istri Nabi, hanya satu yang bukan janda. Artinya, hampir semua istri Nabi adalah para janda yang secara sosial posisinya sangat rentan dalam masyarakat Arab di masa itu. 

"Janganlah dengan otak mesum itu berani-berani menyamakan diri sederajat dengan Nabi Muhammad, sekedar mengingatkan supaya ikhwan tidak masuk neraka," tegas Kanti.

Kanti mengingatkan, begitu banyak nilai baik yang bisa diambil dari kehidupan Nabi Muhammad. 

"Tetapi mengapa sebagian kalangan hanya memakai poligini yang cuma 8 tahun dan perkawinan dengan Aisyah secara berulang  untuk membenarkan poligini serta pernikahan dengan anak di bawah umur?" tanya Kanti.

Padahal,  tambah Kanti, dari hubungan Nabi dengan istri pertamanya banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Dari situ kita tahu bahwa di dalam Islam, perempuan boleh bekerja serta boleh punya penghasilan lebih besar. 

Baca: PDI Perjuangan dan Islam Miliki Sejarah Panjang

Selain itu, dalam Islam juga tak masalah bila usia istri jauh lebih tua, perempuan menikah di usia matang (saat itu diperkirakan Khadijah berusia 40 tahun atau mendekati), perempuan boleh melamar laki-laki duluan, serta memuliakan janda.

"Begitu majunya pemikiran mereka di abad ke-7, lah kok sekarang malah terbelakang? Para penindas perempuan, ragu saya kalian benar-benar mengikuti jejak Nabi. Kalian hanya memperalat agama demi syahwat sendiri," ujar Kanti.

Quote