Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPRD Kota Tasikmalaya Fraksi PDI Perjuangan Dapil 1, Kepler Sianturi, resmi membuka Marsada Tournament Futsal Event Volume 3 di GOR Lidya, Jalan Lewo Babakan, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Minggu (16/8/2026).
Kepler mengapresiasi penyelenggaraan turnamen yang dinilai mampu menjadi ruang positif bagi generasi muda sekaligus mempererat persaudaraan masyarakat Batak di Jawa Barat.
"Saya acungi jempol. Di tengah efisiensi anggaran, masih ada anak-anak muda yang inisiatif menggelar kegiatan positif seperti ini," kata Kepler.
Turnamen bertema "Partongah Do Marhite Parsaoran" atau "Tali persaudaraan dibentuk dari kerja sama tim" tersebut diikuti 13 tim perwakilan komunitas Batak dari lima daerah di Jawa Barat. Kota Tasikmalaya menurunkan empat tim, Bandung tiga tim, Karangnunggal dua tim, serta masing-masing satu tim dari Cikarang dan Majalengka.
Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari kalangan pemain, tetapi juga keluarga dan tokoh masyarakat Batak dari berbagai marga. Pembukaan turnamen ditandai dengan tendangan bola pertama oleh Kepler Sianturi sebagai tanda dimulainya Marsada Tournament Futsal Event Volume 3. Acara tersebut juga dimeriahkan dengan pantun.
Kepler menilai penyelenggaraan Marsada Futsal Cup 3 menjadi bukti bahwa generasi muda mampu menghadirkan kegiatan positif secara mandiri, khususnya di tengah kondisi fiskal daerah yang sedang ketat.
Politisi PDI Perjuangan itu juga memuji potensi para pemain muda Batak di Tasikmalaya. Menurutnya, para peserta mampu menunjukkan kompetensi luar biasa meski memiliki kesibukan masing-masing, baik bekerja maupun bersekolah.
"Ini bukti regenerasi futsal berjalan. Bung Karno bilang 'beri aku 10 pemuda', nah di sini hadir lebih dari 10 pemuda Batak Tasik. Mereka bisa mengguncang Jawa Barat dan Kota Tasikmalaya lewat kegiatan positif," tegasnya.
Kepler menyoroti kehadiran berbagai marga Batak dari Tasikmalaya maupun daerah lain yang berkumpul dalam satu arena. Menurutnya, turnamen tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi olahraga, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kekeluargaan.
"Kegiatan ini simbol persatuan. Meskipun beda marga, kita tetap satu. Harapannya masyarakat Batak di Jabar maupun Indonesia bisa saling menghargai dan mempererat kekeluargaan," ujarnya.
Ia juga menyatakan komitmennya untuk mendorong alokasi anggaran bagi kegiatan Marsada dalam APBD 2027. Menurutnya, dukungan tersebut diharapkan dapat membuat pelaksanaan turnamen pada tahun mendatang berjalan lebih maksimal dan memberikan ruang yang lebih besar bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi olahraga.
"Semoga kegiatan ini rutin tiap tahun. Doa saya panitia Marsada semakin mantap, maju, dan jaya," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Darmanuta Soit mengatakan, Marsada Tournament Futsal Event Volume 3 sengaja digelar sebagai ruang temu bagi warga Batak yang berada di perantauan sekaligus memperkuat hubungan antarwarga Batak dari berbagai daerah di Jawa Barat.
"Tujuan utama kami adalah mempererat tali silaturahmi antar suku dan adat Batak se-Jawa Barat. Lewat olahraga Futsal, kita ingin membuktikan bahwa kebersamaan itu dibangun lewat kerja sama tim, bukan kerja sendiri-sendiri," ujarnya Darmanuta.
Menurut Darmanuta, semangat kebersamaan juga tercermin dari total hadiah sebesar Rp20 juta yang diperebutkan dalam turnamen tersebut. Selain memperebutkan gelar juara, panitia memberikan penghargaan kepada Best Player dan Top Scorer agar setiap individu tetap termotivasi dalam bingkai tim.
Darmanuta berharap kegiatan rutin seperti Marsada Tournament Futsal Event dapat terus menjaga persaudaraan antar-marga Batak di Jawa Barat.
"Meskipun kita berasal dari marga yang berbeda-beda, di lapangan kita tetap satu. Ini rumah kedua kita," pungkasnya.
Total hadiah yang diperebutkan dalam turnamen tersebut mencapai Rp20 juta. Juara pertama memperoleh Rp10 juta, juara kedua Rp5 juta, dan juara ketiga Rp3 juta. Sementara penghargaan Best Player dan Top Scorer masing-masing mendapatkan hadiah Rp1 juta.
Melalui turnamen tersebut, Marsada diharapkan tidak hanya menjadi wadah kompetisi futsal, tetapi juga menjadi ruang memperkuat silaturahmi, persatuan, serta pembinaan generasi muda Batak di Jawa Barat.

















































































