Yogyakarta, Gesuri.id — Langkah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam mendampingi talenta lokal berbuah manis.
Dua desainer kebaya andalan DPD PDI Perjuangan DIY sukses memborong tiket menuju tingkat nasional setelah menjuarai ajang Fatmawati Trophy 2026 Regional 7 (Jawa Tengah-DIY) di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, Jumat malam (14/8/2026).
Dua desainer tersebut adalah Tiara Yusita Wijayanti dari DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sleman dengan karya bertajuk "Kebaya Fatmawati Puspa Merapi: Keanggunan yang Tumbuh dari Ketahanan", serta Sarah Azzahra dari DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta yang mengusung karya "Sumbu Kartika".
Baca: Soroti Pelibatan TNI-Polri di Sektor Pertanian, Ganjar Pranowo

Keduanya siap melenggang mewakili regional ke ajang puncak yang bakal digelar di Bali pada Oktober 2026 mendatang.
Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY, Yan Kurnia Kustanto, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian ini. Menurutnya, kedua karya tersebut berhasil memadukan figur Ibu Fatmawati Soekarno, kearifan lokal, dan nilai perjuangan perempuan.
"Ini membuktikan bahwa ketika proses kreatif diberikan ruang dan difasilitasi dengan baik, kader maupun peserta dari daerah mampu menghasilkan karya yang sangat kompetitif," ujar Yan Kurnia.
Ia menambahkan, bagi PDI Perjuangan DIY, Fatmawati Trophy bukan sekadar ajang pamer keindahan busana, melainkan wadah edukasi untuk mengenalkan nilai-nilai perjuangan sosok Ibu Fatmawati kepada generasi muda.
"Kami mendorong peserta agar tak sekadar merancang kebaya yang indah secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman gagasan dan keterikatan erat dengan identitas budaya Yogyakarta," jelasnya.
Secara teknis, proses fasilitasi dan pendampingan kreatif ini dikomandoi oleh Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital DPD PDI Perjuangan DIY, Reda Refitra Safitrianto, berkolaborasi dengan lima DPC di kabupaten/kota.
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

Reda menjelaskan bahwa dari tiga perwakilan yang dikirim—yakni dari Sleman, Kota Yogyakarta, dan Bantul—dua di antaranya berhasil lolos. Setiap wilayah menampilkan karakter narasi yang sangat kuat.
"Sleman hadir memukau dengan narasi ketahanan erupsi Merapi, sedangkan Kota Yogyakarta mengusung filosofi Sumbu Kartika dan perjalanan perempuan. Dua pendekatan berbeda ini memperlihatkan kekayaan perspektif dari satu wilayah kebudayaan yang sama," terang Reda.
Ke depan, DPD PDI Perjuangan DIY berkomitmen memberikan pengawalan penuh agar kedua perwakilan DIY dapat tampil maksimal pada laga final di Bali. Capaian ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus melestarikan kebaya dan warisan budaya Nusantara.

















































































