Jakarta, Gesuri.id – Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) secara resmi menganugerahkan penghargaan rekor kepada Guntur Soekarno, putra sulung Presiden pertama RI, Ir. Soekarno.
Tokoh yang akrab disapa Mas Tok ini dinilai layak menerima penghargaan atas rekor sebagai "Putra Presiden pertama yang Membentuk Grup Band dan Karyanya Direkam dalam Piringan Hitam".
Prosesi penyerahan penghargaan dilakukan langsung oleh pendiri MURI, Jaya Suprana, di Gedung Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (16/7)
Guntur Soekarno dinilai berhasil menorehkan karsa dan karya yang superlatif, spektakuler, serta unik. Prestasi ini menjadi sangat istimewa karena diraih di tengah situasi politik, ekonomi, dan keamanan Indonesia era 1960-an yang penuh tantangan.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Menanggapi penghargaan ini, Mas Tok menyampaikan rasa terkejut sekaligus terima kasihnya. Ia mengaku sama sekali tidak pernah mengejar pengakuan dalam bentuk rekor.
"Buat saya, Rekor MURI ini mengejutkan dan menjadi surprise. Sejak dulu saya tidak pernah memikirkan rekor-rekoran tersebut, apalagi mengejarnya. Saya hanya berkarya, bermain musik, mencari uang, dan bahagia," ujar Mas Tok.
Kakak kandung dari Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri ini membagikan kisah unik di balik keputusannya terjun ke dunia musik.
Saat diterima di Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1962, sang ayah, Bung Karno, tidak memiliki banyak uang untuk memberikan uang saku lebih kepada anak sulungnya tersebut.

Enggan merepotkan sang ayah, Mas Tok memutar otak untuk mencari penghasilan tambahan demi membiayai kuliah dan biaya hidupnya di Bandung. Lewat bakat dan kecintaannya pada seni musik, ia mulai merintis karier sebagai musisi profesional.
Langkah awal Mas Tok di dunia musik Bandung dimulai ketika ia lolos audisi instrumen dan vokal untuk bergabung dengan Alulas Band, sebuah kelompok musik yang dipimpin oleh Syamsuddin.
Tidak berhenti di situ, Mas Tok kemudian memelopori lahirnya grup musik baru bernama Aneka Nada. Band ini diperkuat oleh deretan musisi berbakat yang kelak menjadi legenda musik tanah air, antara lain Syamsuddin, Iwan Abdurachman, Iman Djumaedi, Memet Slamet, Yessy Wenas, dan Alphonse.
Aneka Nada sukses menjadi wadah kreativitas anak muda pada zamannya. Grup ini sangat disegani, rutin tampil di berbagai hotel dan panggung pertunjukan di Bandung, serta sering mengiringi berbagai kegiatan seni.
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

Dalam penampilannya, Mas Tok dikenal sebagai musisi serba bisa yang lihai memainkan gitar, drum, hingga vibraphone. Ia bahkan turut menciptakan beberapa karya, termasuk lagu instrumen dan lagu berjudul "Masa Lalu".
Misi Mas Tok tidak berhenti pada panggung hiburan. Ia mendorong rekan-rekannya untuk mendokumentasikan karya mereka ke dalam bentuk piringan hitam. Demi mematangkan rencana tersebut, Mas Tok juga membentuk grup musik format lebih kecil bernama Kwartet Bintang yang beranggotakan dirinya, Memet Slamet, Yessy Wenas, dan Dodo Rukanda Ishak.
Melalui karya-karya yang direkam dalam piringan hitam bersama Aneka Nada dan Kwartet Bintang, mereka resmi tercatat sebagai salah satu pelopor grup musik modern yang mewarnai sejarah perkembangan musik pop di Indonesia.
Penghargaan Rekor MURI ini menjadi bentuk apresiasi tertinggi atas dedikasi, karya nyata, dan bakat luar biasa seorang Guntur Soekarno yang tidak hanya dikenal sebagai kolumnis, fotografer, dan wartawan, tetapi juga sebagai salah satu tonggak sejarah musik modern Indonesia.

















































































