Ikuti Kami

Tjhai Chui Mie: Grebeg Suro Momentum Perkuat Kebersamaan, Gotong Royong, Toleransi di Singkawang

Grebeg Suro bukan sekadar perayaan pergantian Tahun Baru Jawa saja.

Tjhai Chui Mie: Grebeg Suro Momentum Perkuat Kebersamaan, Gotong Royong, Toleransi di Singkawang
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie membuka Grebeg Suro 2026 di stadion Kridasana, Sabtu (21/6/2026) malam.

Jakarta, Gesuri.id - Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie menegaskan perayaan Grebeg Suro 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, toleransi, serta pelestarian budaya di tengah keberagaman masyarakat Kota Singkawang.

"Grebeg Suro bukan sekadar perayaan pergantian Tahun Baru Jawa saja, melainkan momentum untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, toleransi, dan pelestarian budaya," kata Tjhai Chui Mie, Senin (22/6/2026).

Menurut Tjhai Chui Mie, keberagaman budaya yang tumbuh dan berkembang di Kota Singkawang merupakan kekayaan yang harus terus dijaga serta diwariskan kepada generasi muda. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui berbagai kegiatan budaya yang bersifat edukatif dan inklusif.

Ia menilai Grebeg Suro tidak hanya berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat, tetapi juga harus mampu memberikan nilai pembelajaran dan penguatan karakter, khususnya bagi generasi muda.

"Saya berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang memberikan nilai edukatif dan spiritual bagi masyarakat, khususnya generasi muda," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Jawa Kota Singkawang (PJKS), Sutopo Aryanto, menjelaskan bahwa Grebeg Suro tahun ini mengusung tema "Harmoni Budaya di Kota Toleran, Merajut Tradisi Memperkokoh Keberagaman". Tema tersebut dipilih sebagai refleksi kehidupan masyarakat Singkawang yang hidup berdampingan dalam suasana penuh toleransi dan saling menghargai.

Menurut Sutopo, rangkaian kegiatan budaya yang digelar selama sepekan diharapkan dapat menjadi wadah mempererat hubungan antarwarga sekaligus memperkuat semangat persatuan di tengah keberagaman budaya yang ada.

"Seluruh rangkaian kegiatan diharapkan menjadi ruang silaturahmi budaya bagi seluruh elemen masyarakat," katanya.

Dalam perayaan tahun ini, masyarakat akan disuguhkan berbagai kegiatan budaya, mulai dari Java Night 1.000 Blangkon, pertunjukan tari kolosal, kirab gunungan, pameran seni budaya Jawa, hingga karnaval budaya yang menampilkan kekayaan tradisi Nusantara.

Ketua Panitia Grebeg Suro 2026, Supardiana, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung selama tujuh hari, mulai 20 hingga 27 Juni 2026. Selain pertunjukan budaya, panitia juga menghadirkan puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mendukung perputaran ekonomi masyarakat.

"Kehadiran stan UMKM tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi pelaku usaha sekaligus menjadi daya tarik bagi masyarakat yang berkunjung," katanya.

Sebanyak 59 stan UMKM disediakan dalam kegiatan tersebut yang menawarkan beragam kuliner khas serta produk unggulan lokal. Kehadiran para pelaku usaha diharapkan dapat meningkatkan transaksi ekonomi selama penyelenggaraan festival berlangsung.

Di sisi lain, Ketua Paguyuban Jawa Kalimantan Barat (PJKB), Purwanto, menilai Grebeg Suro memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga di Kalimantan Barat yang memiliki latar belakang budaya beragam.

"Tradisi ini merupakan bagian dari kekayaan budaya daerah yang harus dijaga bersama sebagai simbol harmonisasi dan kebhinnekaan," katanya.

Melalui penyelenggaraan Grebeg Suro 2026, Pemerintah Kota Singkawang bersama berbagai elemen masyarakat berharap tradisi budaya dapat terus lestari sekaligus menjadi sarana memperkuat persatuan, toleransi, dan harmonisasi sosial di Kota Singkawang yang dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.

Quote