Ikuti Kami

Megawati dan Pancasila yang Berjalan Jauh

Oleh; Eri Irawan, Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya.

Megawati dan Pancasila yang Berjalan Jauh
Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri.

Surabaya, Gesuri.id - Di Abu Dhabi, Megawati Soekarnoputri bercerita tentang Pancasila, kebhinnekaan, dan bagaimana masa lampau membentuk wajah Indonesia hari ini dan masa mendatang. Ia bicara tentang Bhinneka Tunggal Ika, tentang sebuah keyakinan yang membuat sebuah bangsa diimajinasikan dengan kuat dari Aceh hingga Papua. Tentang keyakinan bahwa keberagaman bukanlah persoalan untuk membayangkan sebuah kesatuan dan memanifestasikan persaudaraan.

Di hadapan Majelis Persaudaraan Manusia Zayed Award for Human Fraternity 2026 yang digelar di Abu Dhabi—forum global yang dihadiri tokoh-tokoh dari berbagai negara, Megawati menegaskan bahwa politik kebangsaan tidak disusun dari angka-angka statistik yang membelah publik ke dalam kategorisasi mayoritas dan minoritas. Indonesia dibentuk dengan politik kebhinnekaan yang berdiri di atas etik. Itulah sebabnya, kemajemukan bukanlah persoalan di negeri ini, melainkan kenyataan yang sejak awal diterima sebagai fondasi bersama.

Dalam pidato 1 Juni 1945, yang kita kenal sebagai hari lahir Pancasila, Bung Karno menegaskan, ”Kita mendirikan negara Indonesia…semua buat semua!” Sebuah kalimat sederhana, namun memuat prinsip mendasar bahwa republik ini tidak dibangun untuk satu golongan, satu agama, atau satu identitas, melainkan sebagai rumah bersama bagi seluruh rakyatnya.

Pancasila, falsafah bangsa yang digali Presiden pertama dan Proklamator Bung Karno dari kearifan rakyat Indonesia, bukan sekadar keniscayaan historis, melainkan fondasi untuk membentuk dan merawat bangsa ini. 

“Pancasila bukan sekadar ideologi formal, melainkan ideologi yang menjadi jiwa bangsa. Pancasila berfungsi sebagai dasar berpijak dan bintang penuntun ke mana arah dan perjuangan bangsa Indonesia,” kata Megawati.

Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan PDI Perjuangan Tak Bisa Didikte

Pancasila hadir sebagai ruang bersama yang memungkinkan perbedaan hidup berdampingan, sekaligus kompas yang menuntun arah perjalanan bangsa. Ia membuat kompleksitas Indonesia bisa ditafsirkan bukan dalam ruang kedap suara yang menampik perbedaan, melainkan dalam percakapan yang terus terbuka. Dalam konteks ini, Pancasila tampil sebagai jiwa bangsa, bukan sekadar ideologi administratif.

Ketokohan dan Semangat Kepemimpinan Megawati

Di Abu Dhabi, Megawati tak sedang menggurui. Kehadirannya sebagai juri Zayed Award for Human Fraternity sudah cukup menjelaskan ketokohan dan semangat kepemimpinannya yang tak padam dan tak bisa dipadamkan oleh pragmatisme politik. Kehadiran Megawati merupakan pengakuan atas perannya dalam menegakkan demokrasi dan nilai-nilai kemanusiaan. Megawati memahami bahwa nilai-nilai Indonesia beresonansi dengan semangat global yang digaungkan Zayed Award: persaudaraan manusia dan perdamaian dunia.

Indonesia tidak berdiri sebagai penonton. Kehadiran Megawati menegaskan bahwa Indonesia adalah bagian dari percakapan global tentang kemanusiaan: sebuah negeri yang bertahan hingga kini di atas kemajemukan, dan terus-menerus diuji oleh waktu serta tantangan sejarah.

Megawati menekankan pentingnya optimisme kolektif untuk memperjuangkan kelompok lemah dan tertindas. Tidak akan ada persaudaraan tanpa empati terhadap yang lemah, dan tidak akan pernah ada perdamaian tanpa kemerdekaan. Bung Karno pernah mengingatkan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, melainkan “jembatan emas” untuk mewujudkan keadilan sosial. Tanpa keberpihakan kepada mereka yang lemah, kemerdekaan akan kehilangan maknanya.

Namun optimisme tidak muncul dengan sendirinya. Ia ditempa oleh perjalanan bangsa yang tak selalu tenang, lebih sering menyerupai kapal yang harus menerjang badai di tengah samudra. Dalam situasi-situasi genting itulah, Pancasila menjadi bintang penuntun untuk memulihkan kembali imajinasi kita agar tak pudar untuk terus berikhtiar mewujudkan sebuah bangsa yang kebak nilai kemanusiaan.

Membangun Dunia Baru

Kehadiran Megawati di forum Zayed Award di Abu Dhabi seperti tengah menapaktilasi apa yang dilakukan ayahandanya dulu: melakukan muhibah untuk membangun dunia baru yang lebih manusiawi. Megawati sedang menapaki jalan aliansi kemanusian. Bukan aliansi politik kekuasaan. Dan tidak ada yang lebih menjadi prioritas selain menyelamatkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah situasi geopolitik hari-hari ini yang bikin kita mengelus dada.

Bung Karno menyadari dunia memang tak sempurna. Maka dia membangun persahabatan 
yang menembus sekat-sekat kebangsaan untuk menegakkan peradaban dunia yang dilandasi kemanusiaan. “Tuan-tuan tidak berkumpul di dunia yang damai…Jurang-jurang besar dan curam menganga di antara bangsa-bangsa dan golongan-golongan bangsa,” kata Bung Karno dalam pembukaan KAA di Bandung, 18 April 1955, sebuah pidato yang menyita perhatian dunia, yang menghasilkan tepuk tangan panjang dari delegasi Konferensi Asia Afrika.

“Kita mempunyai tanggung jawab yang berat terhadap diri sendiri, terhadap dunia, dan terhadap angkatan (generasi baru) yang akan lahir,” kata Bung Karno.

Situasi dunia hari-hari ini serupa yang pernah diingatkan Bung Karno, “Kita menghadapi situasi, di mana keselamatan umat manusia tidak selalu mendapat perhatian utama. Banyak orang yang berada di tempat kekuasaan yang tinggi malah lebih memikirkan tentang hal menguasai dunia.”

Baca: Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Kritik

Lebih dari tujuh puluh tahun berlalu setelah Bung Karno berpidato di hadapan para pemimpin Asia-Afrika dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung, 1955. Dunia belum sepenuhnya berubah, dan kini Megawati melanjutkan tanggung jawab sejarah dari ayahnya, untuk mengikuti apa yang disebut Bung Karno sebagai “kode moralitas tertinggi”.

“Dan mengenai politik, apakah kode moralitas yang tertinggi? Kode moralitas tertinggi ialah subordinasi, ketundukan segala sesuatu kepada keselamatan umat manusia,” kata Bung Karno.

Tentu bukan dalam forum Zayed Award saja Megawati menyuarakan soal kemanusiaan di forum global. Di Roma, awal Februari 2025, Megawati memeluk duka anak-anak korban perang di Gaza (Palestina) dan Ukraina. Di Jakarta, pada 2024, Megawati bersilaturahim dengan Imam Besar Al Azhar Ahmed El-Tayeb untuk membincang soal keadilan global. Di Korea Selatan dan Korea Utara, Megawati berikhtiar mendorong perdamaian. Dan di berbagai belahan Bumi lainnya, Megawati tak pernah berubah. Demikian pula ketika masa kepresidenannya yang kukuh mewujudkan politik luar negeri Bung Karno: menjaga dunia dari dampak pertarungan zero sum game kekuatan-kekuatan internasional. 

Sebuah upaya yang dilandasi tekad untuk mendapatkan kedamaian dan keadilan bagi negara-negara yang terpinggirkan, memberikan suara bagi yang bisu dan dibisukan oleh kekuasaan selama ini. Itulah bagian dari nilai-nilai kemanusiaan dalam Pancasila.

Dan di Abu Dhabi, Megawati menegaskan kembali hal itu: bahwa Pancasila bukan peninggalan masa lalu, melainkan nilai yang terus berjalan jauh, melintasi waktu dan batas-batas geografis

Quote