Ikuti Kami

Cak Awi, Mantan Jurnalis Yang Kepincut Selami PDI Perjuangan

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Adi Sutarwijono merupakan mantan jurnalis di media massa skala nasional.

Cak Awi, Mantan Jurnalis Yang Kepincut Selami PDI Perjuangan
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Adi Sutarwijono. Foto: Gesuri.id/ Nurdin.

Jakarta, Gesuri.id - Memiliki latar belakang sebagai jurnalis, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Adi Sutarwijono paham betul bagaimana harus mendengar dan berbicara ke seluruh elemen masyarakat. 

Hal itu pula yang mengantarkan Adi ketika menjabat Ketua DPC PDI Perjuangan dan Ketua DPRD Kota Surabaya. 

Bagi Adi, dirinya selalu menempat diri ketika bertemu lawan bicara, sering kali menjadi resolusi konflik tersendiri, bahkan kemampuan menulisnya pun tidak diragukan lagi. 

Bahkan tangan dingin Adi menempatkan PDI Perjuangan menjadi partai paling favorit di Kota Surabaya. 

Baca: Banteng Surabaya Kerja Bakti Bersih-Bersih Kampung

Elektabilitas PDI Perjuanngan Kota Surabaya melejit, tembus 46,7 persen. PDI Perjuangan bahkan menempati posisi teratas dalam survei elektabilitas yang digelar Surabaya Survey Center (SSC).

Lantas bagaimana perjalanan singkat Adi meniti karir di PDI Perjuangan? Tim Gesuri berkesempatan menemui mantan jurnalis Surya dan Tempo Interaktif ini. Berikut petikan wawancaranya. 

Bagaimana bapak bisa bergabung ke PDI Perjuangan, padahal bapak sebelumnya bergelut di jurnalistik? 

Tahun 2003 akhir saya merasa sudah senja di dunia wartawan dan kemudian masuk ke dalam PDI Perjuangan, partai yang dekat dengan hati, pikiran dan hasrat politik saya. Pada saat itu saya juga sudah mengenal sejumlah politisi senior PDI Perjuangan, seperti Mas Bambang DH dan rekan-rekan seangkatannya yang kemudian menjadi mentor politik saya. 

Pada tahun 1996 ketika saya menjadi wartawan di harian Surya yang ditugaskan untuk meliput berbagai gerakan unjuk rasa. Salah satunya unjuk rasa kader-kader PDI yang menolak keras terhadap Kongres ilegal di Medan yang kemudian puncak perlawan itu ada di 27 Juli. Pusat perlawanan di Kota Surabaya ada di Pandigiling dan sejumlah tokoh yang saya kenal menjadi pemimpin-pemimpin baru di Kota Surabaya. 

Apa ilmu-ilmu jurnalistik yang Pak Adi terapkan saat ada di PDI Perjuangan? 

Dalam dunia jurnalistik akan membawa untuk berhubungan dengan siapa pun. Menjadi seorang wartawan saya bisa bertemu masyarakat biasa, hingga orang-orang dengan berbagai profesi termasuk berbagai lapisan strata sosial di masyarakat. Bisa menguasai pembicaraan, pandai menyampaikan argumentasi dan punya kemampuan untuk mendengar. 

Hal-hal tersebut menjadi bekal saya saat berada di PDI Perjuangan. Saya bisa membangun dialog, harus bisa mendengar maupun berdialog. Kemudian menyusun titik temu pikiran, sehingga kehadiran kita menjadi resolusi konflik terhadap berbagai hal. 

Di PDI Perjuangan saya belajar untuk bertindak secara bersama-sama, gotong royong. Bahkan kepentingan-kepentingan individual ditekan semaksimal mungkin supaya jangan menjadi egosentris. 

Sedangkan suka duka selama ada di PDI Perjuangan apa? 

Suka duka itu silih berganti, kalau dukanya saat kekalahan PDI Perjuangan pada tahun 2004 dan 2009.  Saya mengalami rasa kemenangan saat Pilkada Kota Surabaya pada tahun 2005, 2010 dan Pemilu 2014.

Di PDI Perjuangan selalu diajarkan untuk mendengar suara rakyat, membangun akar dan bergerak secara terus menerus di masyarakat. Karena itulah esensi PDI Perjuangan saat pertama kali didirikan 10 Januari 1973.

Saya memiliki keterampilan menulis yang bisa dikatakan langka di internal PDI Perjuangan dan saya memaksimalkan hal itu sebagai sarana mengabdi PDI Perjuangan. 

Di Kota Surabaya sendiri, sektor-sektor apa saja yang perlu diperbaiki? 

PDI Perjuangan selama saya pimpin  selalu membanguna komunikasi yang intensif ke kelompok-kelompok masyarakat terutama di daerah-daerah di Kota Surabaya PDI Perjuangan kalah. 

Maka kita akan berikan atensi yang khusus dan besar, seperti ada 3 kecamatan dimana PDI Perjuangan mengalami kekalahan. Dan tiga kecamatan tersebut kita fokuskan kerja-kerja politik kita termasuk membangun infrastruktur kepartaian, memberdayakan pengurus, menggerakan kader-kader PDI Perjuangan untuk melayani masyarakat. 

Poitik itu membutuhkan intensitas yang tinggi, semakin sering kita intens maka akan semakin menguasai persoalan. 

Harapan di Tahun 2024 mendatang seperti apa? 

Sejak saya memimpin, kerja-kerja politik seperti turun ke masyarakat akan terus kami intensifkan. Tidak ada kemenangan yang instan, tidak ada hasil yang khianati proses. 

Kerja-kerja politik menuju 2024 adalah kerja-kerja yang bersifat simultan dan berkesinambungan. 

Saya juga mengukurnya dari hasil-hasil lembaga survei di Kota Surabaya, dan saya bersyukur PDI Perjuangan di Kota Surabaya selalu dominan. Tetapi hal itu tidak membuat kami terlena, justru kami semakin memaksimalkan pelayanan kepada warga dan memaksimalkan elektoral PDI Perjuangan. 

2024 Pak Adi nyaleg lagi? 

Iya, di daerah pemilihan (dapil) 3 Kota Surabaya. Saya jadi anggota DPRD dari tahun 2012 melalui PAW (Pergantian Antar Waktu) dan terpilih kembali di 2014-2019.

Kuncinya apa, sehingga Pak Adi bisa menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya? 

Membangun kepercayaan dengan kinerja yang konstan dari waktu ke waktu. Tuntutan jaman sekarang ini ialah bisa dipercaya. 

Pada tahun 2006 ketika saya bergabung dengan PDI Perjuangan, saya membuka rumah saya dan siapapun boleh datang hingga larut malam. Nomor HP saya bisa dihubungi oleh siapa pun, ruang kerja saya di DPRD bisa dikunjungi siapapun. 

Isu-isu pendidikan dan kesehatan harus bisa menjadi kebutuhan dasar kita ke masyarakat. Partai harus bisa menjadi solusi ketika masyarakat mengalami kebuntuan. 

Baca: Banteng Kota Surabaya Tanam Pohon & Bersih-bersih di DAS

Berarti Strategi-strategi 2024 nanti apakah sama seperti di 2019? 

Sekarang kawan-kawan lebih menguasai teritorial, wilayah. Pengenalan medan tugas, memetakan struktur sosial di masyarakat itu menjadi hal penting. Dan kita menguatkan sinergi tiga pilar, dan hal ini tidak dimiliki oleh partai lain di Kota Surabaya, Wali Kota, Wakil Wali Kota, fraksi PDI Perjuangan yang memiliki anggota terbesar dan Ketua Komisi semua berasal dari PDI Perjuangan. 

Struktur kepartaian juga sudah lengkap hingga ke anak ranting, 965 anak ranting dan 1.390 RW. Secara keseluruhan jumlah pengurus sekitar 7.500 orang. Ini merupakan sumber daya yang harus dimaksimalkan. 

Kalau berbicara tentang sumber daya sudah pasti ada tantangan, apa yang menjadi tantangan bagi PDI Perjuangan? 

Terus meningkatkan soliditas  organisasi, dengan cara bertemu satu dengan yang lain dan bisa mengurangi derajat kesalahpahaman pikiran. Dan hal itu saya sudah terapkan dari tahun 2019, bertemu dengan pada kader tidak hanya dalam forum rapat resmi tetapi dengan berbagai kesempatan kita bertemu. Dan setiap pertemuan pasti membicarakan soal masyarakat, kepartaian dan pemerintahan Kota Surabaya.

Quote