Jakarta, Gesuri.id – Rangkaian peringatan 124 Tahun Bung Hatta yang digelar di area Taman Makam Tanah Kusir, Jakarta Selatan, tidak hanya diisi dengan pameran foto dan ziarah, tetapi juga menghadirkan diskusi sejarah yang tajam. Dalam diskusi tersebut, Sejarawan sekaligus Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, membongkar sejumlah narasi keliru dan upaya sistematis untuk meminggirkan peran Mohammad Hatta atau yang ia sebut sebagai Dehattanisasi.
Berbicara di hadapan para peserta diskusi, Bonnie menyoroti bagaimana sejarah sering kali diputarbalikkan, termasuk narasi yang menggambarkan keretakan hubungan antara Bung Karno dan Bung Hatta. Ia dengan tegas menepis anggapan yang menyebut Bung Hatta "baper" atau ngambek terhadap sahabatnya itu.
"Dibuat seolah-olah Bung Karno tersesat dan Bung Hatta ngambek. Itu dongeng halusinasi, fantasi kosong. Dalam politik perbedaan pendapat itu biasa, tapi jangan diframing seolah mereka musuhan. Faktanya, Bung Hatta adalah orang pertama yang melawan Desukarnoisasi (upaya penghapusan peran Soekarno) yang dilakukan oleh Orde Baru," tegas Bonnie Triyana.
Membongkar 'Dehattanisasi' Sejak Era Orde Baru
Lebih lanjut, Bonnie menjelaskan bahwa selain membela Soekarno, Bung Hatta sendiri menjadi korban Dehattanisasi oleh rezim penguasa saat itu. Salah satu contoh nyata adalah pelibatan paksa nama Bung Hatta dalam "Peristiwa Sawito" (Sawito Kartowibowo) pada tahun 1976.
Menurut Bonnie, manuver Orde Baru tersebut dilakukan karena Bung Hatta tetap menjadi sosok yang sangat kritis terhadap pemerintah.
"Gerakan Dehattanisasi itu terjadi karena Bung Hatta tetap kritis. Kritik beliau di media sangat pedas, salah satunya pernyataan monumental bahwa 'korupsi sudah menjadi budaya'. Ini tamparan keras bagi pemerintah baru saat itu yang sedang ganas-ganasnya mengonsolidasi kekuasaan," paparnya.
Bahkan hingga hari ini, Bonnie menilai upaya Dehattanisasi masih terjadi dalam bentuk lain, seperti adanya wacana untuk menggantikan posisi Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Hal tersebut menurutnya adalah bentuk pengingkaran terhadap sumbangsih pemikiran sentral Bung Hatta.
Menepis Narasi Kemerdekaan 'Buatan Jepang'
Dalam pemaparannya, Bonnie juga menolak keras narasi Eurosentris yang menyebutkan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah buatan atau ciptaan Jepang.
Merujuk pada penelitian sejarawan Klaas Stutje, Bonnie menjelaskan bahwa gerakan kebangkitan nasional Indonesia bukanlah sekadar respons lokal terhadap kolonialisme di dalam negeri. Lebih dari itu, kemerdekaan Indonesia adalah hasil dari pergaulan dan pergerakan transnasional yang dimotori oleh tokoh-tokoh kosmopolitan.
"Bung Hatta, Arnold Mononutu, dan Sam Ratulangi adalah tokoh penting yang membawa gerakan nasionalisme kita menjadi gerakan solidaritas transnasional, sebuah kesadaran Pan-Asianisme. Puncaknya terlihat dari keterlibatan mereka di Liga Anti-Imperialisme di Brussels, Belgia, yang tahun depan akan berusia 100 tahun," jelas Bonnie.
Objektivitas Sejarah: Bukan Soal 'Seandainya'
Menutup diskusinya, Bonnie memberikan analogi kecelakaan lalu lintas kepada para generasi muda yang hadir untuk memahami cara kerja sejarah. Ia mengingatkan bahwa sejarawan harus melihat dari berbagai sudut pandang kesaksian agar tidak bias dan bisa mendekati kebenaran.
Ia juga mengkritik pandangan sejarah yang terlalu berlebihan mengangkat peran pemuda (seperti narasi Ben Anderson) sehingga mengesampingkan peran tokoh-tokoh pendiri bangsa lainnya. Sejarah, kata Bonnie, tidak berurusan dengan pengandaian.
"Sejarah tidak bersoal-jawab tentang 'apa yang seandainya terjadi'. Bagaimana seandainya (Soekarno-Hatta) tidak diculik ke Rengasdengklok? Sejarah hanya mengangkat persoalan apa yang benar-benar terjadi. Kalau kita membaca sejarah dengan pengandaian counter-factual, itu ujungnya akan sangat politis," pungkasnya.
Diskusi sejarah ini menjadi salah satu agenda utama dalam peringatan 124 Tahun Bung Hatta yang diinisiasi oleh Yayasan Hatta. Melalui acara ini, publik dan generasi muda diajak untuk kembali menyelami pemikiran murni para Bapak Bangsa dan menempatkan sejarah pada porsi yang sebenarnya.

















































































