Surabaya, Gesuri.id - Talkshow bertajuk “Spirit of Humanity and Human Solidarity: Kemanusiaan dan Tata Peradaban Kota” yang digelar di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (17/1/2026), membuka ruang refleksi bagi generasi muda tentang pentingnya nilai kemanusiaan sebagai fondasi pembangunan kota.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir acara. Ruang Balai Pemuda dipenuhi hadirin, bahkan sebagian rela duduk lesehan demi menyimak dialog para tokoh yang hadir dari tingkat lokal hingga nasional.
Sebanyak empat narasumber hadir berbagi gagasan dan pengalaman, yakni Airlangga Pribadi Kusman, Ketua Bidang Penanggulangan Bencana DPP PDI Perjuangan Tri Rismaharini, akademisi dan pengamat politik Rocky Gerung, serta Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Dalam sambutannya, Eri Cahyadi menegaskan bahwa salah satu kunci berkembangnya Surabaya terletak pada nilai kemanusiaan—yakni kecintaan warga terhadap kotanya serta keterbukaan antara pemerintah dan masyarakat. Transparansi, menurutnya, membangun kepercayaan publik, baik dalam pengelolaan lingkungan, relasi antar suku dan ras, hingga menumbuhkan kepedulian bersama dalam membangun kota.
Baca: Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Kritik
Sejalan dengan sila kedua Pancasila dan amanat Bung Karno, Eri menyebut Surabaya dibangun dengan semangat kemanusiaan yang inklusif.
“Wali kota sesungguhnya adalah masyarakat Surabaya. Surabaya membutuhkan cinta dan kekuatan dari warganya. Kita meneruskan api perjuangan Bung Karno,” ujarnya.
Semangat tersebut, lanjut Eri, harus terus ditanamkan kepada generasi muda agar Pancasila tidak berhenti sebagai slogan, melainkan terwujud dalam tindakan nyata.
“Saya ingin anak muda dan seluruh yang hadir hari ini membangun Surabaya dengan kemanusiaan. Jangan biarkan Pancasila hanya di lisan, tetapi hidup di dalam jiwa,” tegasnya.
Pandangan serupa disampaikan Airlangga Pribadi Kusman. Mengutip pemikiran Bung Karno, ia menjelaskan bahwa peradaban hanya dapat berjalan dengan baik ketika tata kelola politik dan tata kelola kota dijalankan secara manusiawi.
Ia mencontohkan kebijakan penanaman mangrove yang dilakukan Risma. Meski tampak sederhana, dampaknya sangat luas—mulai dari mencegah abrasi, meningkatkan kualitas udara, hingga menciptakan ruang teduh yang menenangkan masyarakat. Ketika kondisi psikologis warga membaik, angka kriminalitas menurun dan produktivitas meningkat.
“Ketika tata kelola itu berjalan, pemerintah memberdayakan masyarakat, ekonomi bergerak, dan fungsi lingkungan tetap terjaga. Di situlah indeks kemanusiaan tumbuh,” jelasnya.
Airlangga juga menekankan peran pemerintah sebagai konduktor yang mampu mengorkestrasi kolaborasi lintas kelompok masyarakat.
“Keberhasilan Surabaya salah satunya karena pemerintah berperan sebagai konduktor. Dari harmoni itulah lahir energi pembangunan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menyambung pandangan tersebut, Rocky Gerung menilai nilai kemanusiaan tercermin dari keterbukaan dialog yang berlangsung dalam forum tersebut. Menurutnya, ketika sekat komunikasi antara pemimpin dan rakyat hilang, evaluasi dapat berjalan dua arah dan kemajuan pembangunan menjadi lebih nyata.
“Tugas pemimpin bukan hanya memberi makan siang gratis, tetapi memberi makan pada batin manusia dan otak manusia. Dan Surabaya tampaknya telah berhasil ke arah itu,” kata Rocky.
Rocky juga menyebut Surabaya sebagai kota yang memiliki masa depan. Ia mengingatkan sejarah Surabaya sebagai Kota Pahlawan sekaligus kota intelektual yang pernah diasuh HOS Tjokroaminoto.
“Ini kota yang punya masa depan. Dari Surabaya, republik yang sedang berbenah ini bisa kembali dibentuk,” ujarnya.
Sementara itu, Tri Rismaharini membagikan pengalaman personalnya dalam menyelesaikan persoalan melalui pendekatan kemanusiaan. Ia menuturkan bagaimana rasa empati mampu mengubah kawasan yang sebelumnya mencekam menjadi lebih bersahabat.
Risma bercerita tentang pengalamannya menangani persoalan sampah hingga kunjungan ke daerah yang sempat dianggap rawan di Papua. Dengan pendekatan humanis, ia justru diterima dengan baik oleh masyarakat setempat.
Baca: Ganjar Pranowo Tak Ambil Pusing Elektabilitas Ditempel Ketat
“Saat kami bersalaman, mereka menyampaikan ‘NKRI harga mati’. Saya diajak menari dan bermain bersama anak-anak. Itu bukti bahwa pendekatan kemanusiaan membuka jalan dialog,” ungkapnya.
Menutup paparannya, Risma mengajak generasi muda untuk terus berpegang pada Pancasila dan tidak kehilangan semangat juang.
“Kalau kita baik kepada orang lain, orang lain akan baik kepada kita. Kalau perjuangan para pendahulu tidak kita lanjutkan, kita hanya akan menjadi penonton,” ujarnya.
“Kalau kita jatuh, kita harus bangkit. Kita buktikan bahwa kita adalah anak dan cucu para pejuang yang tidak pernah takut,” pungkas Risma.

















































































