Ikuti Kami

Didukung Ansy, KTH Anlok Mampu Bertahan dari ASF

Kerugian ekonomi para peternak babi dan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mencapai ratusan miliar. 

Didukung Ansy, KTH Anlok Mampu Bertahan dari ASF
Anggota Komisi IV DPR RI Yohanis Fransiskus Lema (Ansy Lema).

Rote Ndao, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Yohanis Fransiskus Lema (Ansy Lema) mengungkapkan sejak awal 2020 puluhan ribu babi mati akibat mewabahnya penyakit flu babi Afrika (Afrikan Swine Fever/ASF) di Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Kerugian ekonomi para peternak babi dan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mencapai ratusan miliar. 

"Berbagai upaya dilakukan para peternak untuk melindungi ternak babi dari gempuran virus ASF, namun belum optimal mencegah babi mati," ungkap Ansy, baru-baru ini. 

Baca: Ansy Apresiasi Program RJIT & JUT dari Kementan

Demikian pula dengan upaya yang dilakukan Kelompok Tani Hutan (KTH) Anlok, Desa Busalangga Timur Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao belum sepenuhnya berhasil menghindar dari kematian babi. 

Ansy menjelaskan, Ketua KTH Anlok Soleman Selly memaparkan 15 ekor babi yang dibeli kelompok melalui program Pengembangan Perhutanan Sosial Nusantara (Bang Pesona) pada Juli 2021 hampir seluruhnya tewas diserang virus ASF. 

"Bapak Soleman Selly masih beruntung karena terjangan ASF masih menyisahkan 3 ekor babi, termasuk 1 ekor babi betina yang hingga kini masih dipeliharanya," ujar Ansy. 

Politisi PDI Perjuangan itu melanjutkan, Soleman bersyukur dan sangat gembira karena babi betina yang tersisa dan dipeliharanya akhirnya dapat berkembang biak menghasilkan 9 ekor anak babi. 

Kelahiran dan bertambahnya jumlah ternak babi ini merupakan sebuah harapan baru untuk bangkit dari terjangan ASF. 

"Program Bang Pesona ini merupakan hasil kerja sama saya dengan Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (Ditjen PSKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),'" ujar Ansy. 

Bang Pesona diberikan untuk masyarakat sekitar hutan yang tergabung dalam KTH atau Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) serta ditujukan untuk pembibitan tanaman kayu dan buah serta ternak, baik lebah madu, sapi, kerbau, babi atau kambing. 

Setiap KTH mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 50 juta untuk pengembangan kemampuan usaha dan meningkatkan ekonomi produktif petani hutan. 

"Potensi peternakan babi di Rote secara khusus, dan NTT secara umum sangat besar karena babi bernilai ekonomis dan sosial budaya," ujar Ansy. 

Baca: Ansy Lema Kritisi Program Lumbung Pangan

Ansy melanjutkan, ternak babi potensial dan prospektif dikembangkan di NTT antara lain karena didukung ketersediaan pakan memadai dan pasar yang besar. 

"Saya berharap usaha ternak babi KTH Anlok terus meningkat, sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi peningkatan pendapatan anggota kelompok," ujar Ansy. 

"Sejak awal ASF mewabah di NTT hingga mengakibatkan banyak babi mati, saya telah bersuara agar Kementerian Pertanian segera menemukan vaksin untuk menangkal virus ASF," pungkas Anggota DPR-RI dari Dapil NTT II itu.

Quote