Ikuti Kami

Meutia Hatta Ingatkan Darurat Nasionalisme Generasi Muda: "Tanpa Pemahaman Sejarah, Kita Bersalah pada Tuhan"

Pemikiran proklamator adalah bekal penting bagi anak-anak muda saat ini yang akan mengurus negara di masa depan

Meutia Hatta Ingatkan Darurat Nasionalisme Generasi Muda:
Putri sulung Proklamator RI Mohammad Hatta, Meutia Farida Hatta Swasono

Jakarta, Gesuri.id – Putri sulung Proklamator RI Mohammad Hatta, Meutia Farida Hatta Swasono, menyoroti memudarnya rasa cinta tanah air dan pemahaman sejarah di kalangan generasi muda saat ini. Keprihatinan tersebut ia sampaikan dalam momentum peringatan hari lahir Bung Hatta, seraya mengajak seluruh pihak untuk kembali menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan oleh Dwitunggal Soekarno-Hatta.

Meutia mengungkapkan bahwa Yayasan Hatta, yang saat ini dipimpin oleh sang adik, Halida Hatta, terus berupaya menjalin kerja sama strategis dengan berbagai pihak, termasuk keluarga besar PDI Perjuangan. Sinergi ini dibangun dengan satu tujuan utama: membumikan kembali pemikiran besar dari kedua Proklamator bangsa demi masa depan Indonesia.

"Peranan dari kedua proklamator ini sangat unik. Pemikiran mereka adalah bekal penting bagi anak-anak muda saat ini yang akan mengurus negara di masa depan. Mereka harus memiliki cinta pada tanah air dan tahu bagaimana cara mengimplementasikan rasa cinta tersebut melalui minat dan bakat mereka masing-masing untuk membangun Indonesia," ungkap Meutia.

Krisis Identitas dan Cinta Tanah Air

Meutia tidak menampik adanya tantangan besar yang tengah dihadapi bangsa ini. Ia melihat adanya krisis identitas yang dialami generasi muda, di mana banyak dari mereka yang belum memahami jati diri Indonesia secara utuh.

"Begitu banyak tantangan di dunia, begitu banyak tantangan di Indonesia. Cinta tanah air dan bangsa itu rasanya mulai hilang. Berbeda dengan apa yang saya lihat saat masih kecil, di mana masyarakat di jalan-jalan sangat mencintai Indonesia dan hafal lagu-lagu nasional. Sekarang, sekadar membedakan kain batik saja banyak yang tidak tahu. Ini adalah tantangan bagi kita semua," tuturnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Meutia menegaskan perlunya pendidikan karakter yang kuat untuk melatih pemuda berpikir kritis mengenai kontribusi apa yang bisa mereka berikan kepada negara.

Pancasila dan UUD 1945 Sebagai Pemersatu Bangsa

Sebagai negara yang kaya akan suku dan budaya, Meutia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman (multikultural dan pluralistik). Kuncinya ada pada pengamalan landasan bernegara.

"Kita harus mati-matian menjaga negara dan bangsa kita. Aset budaya kita sangat majemuk, tetapi kita harus menjadi satu bangsa Indonesia yang menghormati nilai budaya nasional, yaitu Pancasila, dan norma budaya nasional, yaitu Undang-Undang Dasar 1945. Ini yang harus diajarkan agar mereka bisa mewujudkannya dalam tindakan nyata," tegasnya.

Di sisi lain, Meutia turut mengapresiasi munculnya berbagai organisasi pemuda yang mulai aktif memberikan pelatihan sejarah dan kebangsaan di sekolah-sekolah. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para sejarawan, tokoh politik—termasuk para kader PDI Perjuangan dan Bonnie Triyana—serta panitia acara yang terus mendorong edukasi sejarah kepada masyarakat.

Menutup pernyataannya, Meutia memberikan pesan bernada peringatan bagi generasi tua dan para pemangku kepentingan. Menurutnya, mentransfer nilai sejarah kepada generasi muda bukanlah sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban moral.

"Mari kita semua berusaha supaya anak-anak muda kita melek sejarah, paham sejarah, dan mau berbuat sesuatu untuk Indonesia. Karena kalau bukan mereka, siapa lagi yang akan membangun negeri ini? Generasi sepuh pada akhirnya akan dipanggil oleh Tuhan. Jika kita belum memberikan bekal kepada mereka (generasi muda), maka kita ikut bersalah di hadapan Allah," tutup Meutia.

Quote