Ikuti Kami

Putra: Sikap Hidup 'Tepo Seliro' Tangkal Intoleransi di Tengah Arus Digital

Putra: Dalam hidup bermasyarakat maupun di lingkungan kerja atau kampus kita harus memiliki sifat tepo seliro memahami perbedaan.

Putra: Sikap Hidup 'Tepo Seliro' Tangkal Intoleransi di Tengah Arus Digital
Anggota DPR RI fraksi PDI Perjuangan Putra Nababan dalam Sosialisasi MPR RI di Jakarta Timur, Rabu (19/7). (gesuri.id/Elva Nurrul Prastiwi)

Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPR RI fraksi PDI Perjuangan Putra Nababan mengatakan bangsa Indonesia yang merupakan masyarakat multikultural berdasarkan Bhinneka Tunggal Ika mutlak memiliki sikap tepo seliro atau tenggang rasa sebagai pedoman hidup toleransi yang perlu diinternalisasikan pada diri setiap individu sebagai bentuk penghormatan terhadap orang lain. 

Baca; Putra: Toleransi dalam Multikulturalisme Indonesia Sebuah Keniscayaan

Putra melanjutkan, memaknai tepo seliro atau tenggang rasa merujuk pada kearifan lokal dalam tata cara berinteraksi, yang dapat menjadi pedoman untuk masyarakat dalam mewujudkan sikap masyarakat agar sesuai nilai-nilai keluhuran sehingga bukan saja penting untuk harmoni kehidupan, namun juga menjadikan setiap diri mencapai martabat yang baik. 

"Dalam hidup bermasyarakat maupun di lingkungan kerja atau kampus kita harus memiliki sifat tepo seliro memahami perbedaan. Tepo seliro dalam bahasa Jawa yang artinya tenggang rasa," ungkap politisi PDI Perjuangan tersebut dalam Sosialisasi MPR RI di Jakarta Timur, Rabu (19/7).

Putra mengingatkan khususnya generasi muda dan di era globalisasi saat ini dimana interaksi dan toleransi masyarakat mulai dirasakan semakin terkikis, maka sikap tepo seliro sanggup menyaring dan menjadi solusi dari pengaruh-pengaruh negatif akibat modernisasi di tengah arus digital. 

"Kita boleh berbeda agama, suku, bahasa daerah, dan lain-lain, tetapi kita harus tetap bersatu dalam rangka untuk mengawal NKRI," ungkap mantan pemred TV berita nasional itu.

Putra juga mencontohkan tenggang rasa atau tepo seliro memainkan peran penting dalam membangun hubungan yang harmonis dalam hidup bermasyarakat yang mengacu pada prinsip saling menghormati, memahami, dan mempertimbangkan perasaan, hak, dan kepentingan orang lain dalam interaksi sosial.

Untuk itu, lanjut Putra, tenggang rasa atau tepo seliro tentunya harus sungguh-sungguh diamalkan. Dengan demikian, kita mengakui bahwa setiap individu memiliki nilai, kepentingan, dan perasaan yang perlu dihormati.

Baca: Putra: Lahirnya Pancasila Entitas Pijakan Bersama Kemajemukan Bangsa

"Sekali lagi, konsep tepo seliro ini mengajarkan kita akan pentingnya menjaga kerukunan dan harmoni dalam hubungan bersosial. Ketika terjadi perbedaan pendapat atau konflik, kita bersedia mendengarkan dan memahami pandangan orang lain serta mencari solusi yang saling menguntungkan itulah tepo seliro," pungkas Putra.

Quote