Ikuti Kami

Ansy Bertukar Pikiran dengan Aktivis PMKRI Surabaya 

Ansy, yang juga alumni PMKRI ini mengaku sangat senang berdiskusi di marga bersama 'adik-adik' nya dari PMKRI Surabaya. 

Ansy Bertukar Pikiran dengan Aktivis PMKRI Surabaya 
Anggota Komisi IV DPR RI Yohanis Fransiskus Lema (Ansy Lema).

Surabaya, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Yohanis Fransiskus Lema (Ansy Lema) menutup tahun 2021 dengan bercerita, bertukar pikiran, berdiskusi dan merefleksikan perjalanan kehidupan bersama para aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Surabaya Sanctus Lukas, baru-baru ini. 

Ansy, yang juga alumni PMKRI ini mengaku sangat senang berdiskusi di marga bersama 'adik-adik' nya dari PMKRI Surabaya. 

"Karena mengunjungi PMKRI selalu merupakan kembali ke rumah," ujar Ansy.

Baca: Didukung Ansy, KTH Anlok Mampu Bertahan dari ASF

"Ya, saya terkenang PMKRI.  PMKRI adalah rumah tempat saya berproses dan menempa diri dalam kaderisasi kepemimpinan mulai dari lapangan konkrit dan lapangan kognitif," ungkap Politisi PDI Perjuangan itu. 

Ansy pun menegaskan, tidak ada kesuksesan dengan jalan pintas. Semua butuh doa, butuh usaha, butuh proses, dan butuh perjuangan. 

"27 tahun lalu, saya masuk PMKRI seperti gelas kosong. Di sana saya belajar dan diajar untuk berdiskusi, membaca, menulis, terjun ke jalanan, hingga akhirnya kami turut menjadi pejuang dan saksi hidup reformasi 1998," papar Ansy. 

Ansy mengungkapkan, kelaparan, tidur digigit nyamuk, diskusi berlarut-larut, berbagi buku murah, dan lain-lain adalah hal lazim yang dia alami di PMKRI. Tetapi, ujar Ansy, hal itu justru menjadi titian menuju masa depan. 

"PMKRI adalah organisasi pembinaan sekaligus perjuangan berdasarkan nilai-nilai Injil, yakni berjuang untuk kaum marginal, kaum tertindas, wong cilik, option for the poor," tegas Ansy. 

Kini sebagai anggota DPR RI, Ansy menerjemahkan komitmen perjuangan PMKRI untuk wong cilik sebagai perjuangan untuk nelayan, petani, dan peternak yang selama ini dimiskinkan secara kultural dan struktural. 

"Kepada adik-adik yang ingin terjun ke dunia politik sebagai pemimpin, saya menekankan empat pokok yang wajib dilakukan sesuai pengalaman saya," ungkap Ansy. 

"Pemimpin butuh 4 'TAS'. Pertama, Kapasitas : Relasi individu dengan mutu dan bobot kerja atau kinerja. Kapasitas terkait kualitas berpikir (isi kepala) dan kompetensi dalam bekerja," ujar Ansy 

Lalu kedua, ujar Ansy, adalah  Integritas, yang berarti Relasi individu dengan nilai-nilai utama yang hidup atau dihidupkan dalam diri semisal kejujuran, disiplin, militansi, kerja keras. Integritas juga terkait karakter diri. 

"Lalu ketiga adalah elektabilitas. Yakni Relasi individu dengan konstituen. Elektabilitas terkait jumlah pemilih (jumlah kepala) yang mendukung," ujar Ansy. 

Baca: Ansy Apresiasi Program RJIT & JUT dari Kementan

Kemudian keempat, spiritualitas. Ansy menjelaskan, spiritualitas adalah Relasi antara individu dengan religiositas atau nilai-nilai iman, nilai etis dalam diri. 

"Benar kata-kata bijak: cermin diri yang paling jujur adalah kehadiran yang lain dengan perhatian, pertanyaan, dan saran positif-konstruktif," ujar Ansy. 

Bagi  Ansy, aktivis PMKRI Surabaya memberikan tanggapan reflektif dan masukan berharga kepada dirinya untuk terus berbenah diri, mentransformasi hidup agar lebih maju di masa yang akan datang. 

"Terima kasih kepada senior saya di PMKRI, abang Vinsensius Awey, anggota DPRD Kota Surabaya (2014-2019) yang telah mengantar dan menemani saya bertemu komunitas PMKRI Surabaya untuk merefleksikan kembali perjalanan kehidupan," ujar Ansy. 

"Life is a journey. Hidup adalah sebuah ziarah, perjalanan kehidupan penuh lika-liku yang tidak dapat diprediksi, namun harus dijalani.  Perjalanan terbaik adalah bersama DIA dan di dalam DIA, Sang Pemilik Kehidupan, yang memberikan kekuatan kepada kita," ujar Anggota DPR-RI dari Dapil NTT II itu.

Quote