Jakarta, Gesuri.id - Koordinator Nasional Arus Muda Relawan Perjuangan Demokrasi (REPDEM), Banu Bagaskara, mengecam keras aksi penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
Menurut Banu, tindakan kekerasan tersebut merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan keselamatan para pembela hak asasi manusia di Indonesia.
“Serangan brutal seperti penyiraman air keras terhadap saudara Andrie Yunus adalah tindakan biadab yang tidak bisa ditoleransi dalam negara demokrasi. Ini bukan sekadar kejahatan biasa, tetapi juga bentuk teror terhadap suara kritis masyarakat sipil,” ujar Banu dalam keterangannya, Sabtu (15/3).
Baca: Eko Suwanto Sebut Pilkada Lewat DPRD Ancam Kedaulatan
Ia menilai kekerasan terhadap aktivis berpotensi menciptakan iklim ketakutan bagi masyarakat sipil yang selama ini memperjuangkan keadilan, transparansi, dan kebebasan berpendapat.
Karena itu, Banu mengajak seluruh aktivis, organisasi masyarakat sipil, dan elemen demokrasi untuk bersatu dan tidak diam menghadapi tindakan brutal tersebut.
“Kita tidak boleh membiarkan teror dan kekerasan menjadi cara untuk membungkam suara kritis. Saya mengajak seluruh aktivis, pegiat demokrasi, dan masyarakat sipil untuk bersatu melawan tindakan brutal seperti ini. Demokrasi hanya akan kuat jika kita berdiri bersama melawan intimidasi,” tegasnya.
Arus Muda REPDEM juga mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut secara transparan dan profesional, termasuk mengungkap siapa pun yang berada di balik serangan tersebut.
Baca: Eko Suwanto Dorong Integritas Ekosistem Penyiaran Digital
“Negara harus memastikan pelaku maupun pihak yang berada di belakang serangan ini diungkap dan dihukum seberat-beratnya. Tidak boleh ada ruang bagi kekerasan terhadap pembela HAM,” kata Banu.
Lebih lanjut, Arus Muda REPDEM menyatakan solidaritas kepada Andrie Yunus dan seluruh aktivis yang selama ini berjuang menjaga nilai-nilai demokrasi di Indonesia.
“Arus Muda REPDEM menyampaikan solidaritas penuh kepada saudara Andrie Yunus. Demokrasi tidak boleh dikalahkan oleh teror. Jika pembela HAM saja tidak aman, maka kita sedang menghadapi ancaman serius bagi masa depan demokrasi kita,” tutupnya.

















































































