Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Darmadi Durianto, menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dinilai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat dan memperlihatkan tingginya ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap impor kebutuhan dasar.
“Dolar sekarang sudah tembus 17.600an dan dampaknya bukan cuman di layar grafik tapi sudah masuk ke kehidupan sehari-hari, setiap bulan Indonesia impor bisa tembus sekitar 20 miliar dolar US kira-kira kalau dikonversi sekarang itu setara hampir 350 triliun per bulan pertanyaan sederhana, ekonomi kita ini sebetulnya berdiri di atas kaki sendiri atau masih tergantung pada luar negeri,” ujar Darmadi Durianto dikutip Selasa (19/5).
Ia menjelaskan bahwa barang impor yang masuk ke Indonesia bukan hanya produk mewah, melainkan kebutuhan pokok masyarakat dan bahan baku industri. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan struktur ekonomi nasional masih sangat bergantung pada produk luar negeri.
“Karena yang kita impor bukan barang mewah tapi kebutuhan dasar, gandum, gula, kedele, susu, jagung sampai bahan baku industri seperti plastik, baja, dan komponen elektronik artinya struktur ekonomi kita masih sangat bergantung pada pasukan luar,” katanya.
Darmadi menilai pelemahan rupiah saat ini telah memasuki fase yang lebih krusial karena dampaknya tidak hanya terasa di pasar keuangan, tetapi juga langsung memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Sekarang kita masuk ke titik yang lebih krusial ketika dolar naik dan rupiah melemah dampaknya tidak berhenti di pasar keuangan tapi langsung terasa di dapurnya masyarakat harga pangan naik, biaya produksi naik, harga barang ikut naik dan yang paling terasa, daya beli masyarakat akan turun karena satu hal sederhana, rakyat Indonesia tidak dibayar dalam dolar,” ujarnya.
Di sisi lain, ia menyebut terdapat sektor-sektor tertentu yang justru memperoleh keuntungan dari penguatan dolar, terutama sektor berbasis ekspor seperti pertambangan dan komoditas.
“Di sisi lain ada kelompok yang justru diuntungkan yaitu sektor berbasis ekspor seperti batu bara, tambang, dan komoditas ketika dolar naik, pendapatan mereka ikut naik tapi di saat yang sama, sektor konsumsi dalam negeri justru tertekan disinilah ketimpangan itu terlihat,” katanya.
Menurut Darmadi, kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi arah pembangunan ekonomi nasional agar lebih mandiri dan tidak terus bergantung pada impor kebutuhan dasar.
“Ini bukan soal menyalahkan, tapi soal membaca arah apakah kita akan terus bergantung pada impor untuk kebutuhan dasar atau kita mulai serius membangun kemandirian produksi dalam negeri karena negara yang kuat bukan hanya yang mampu membeli dari luar tapi yang mampu memproduksi sendiri menurut bapak ibu, ini masih fase wajar pembangunan atau tanda bahwa kita harus berubah lebih cepat,” tandasnya.

















































































