Ikuti Kami

Debat Panas 80 Tahun Revolusi di Amsterdam: Bonnie Triyana Kritik Narasi Fasisme Belanda ​

​Bonnie menyoroti peran krusial bahasa Indonesia di masa pendudukan Jepang yang sering kali luput dari perspektif dekolonisasi.

Debat Panas 80 Tahun Revolusi di Amsterdam: Bonnie Triyana Kritik Narasi Fasisme Belanda ​
Sejarawan sekaligus anggota DPR RI, Bonnie Triyana.

Amsterdam, Gesuri.id – Sebuah diskusi sejarah yang mendalam bertajuk "Tachtig Jaar na de Revolusi: Een Gedeeld Verhaal" (80 Tahun Pascarevolusi: Sebuah Kisah Bersama) digelar di De Balie, Amsterdam, Rabu (6/5). 

Debat ini mempertemukan sejarawan sekaligus anggota DPR RI, Bonnie Triyana, dengan peneliti Anne-Lot Hoek untuk membedah kompleksitas dekolonisasi, kolaborasi, hingga luka trauma perang.

​Bonnie menyoroti peran krusial bahasa Indonesia di masa pendudukan Jepang yang sering kali luput dari perspektif dekolonisasi. Menurutnya, kebijakan Jepang yang mendorong penggunaan bahasa Indonesia secara masif merupakan titik balik penting.

Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo

​"Pemerintahan Jepang mendorong masyarakat untuk menggunakan bahasa Indonesia. Saya rasa itu adalah bagian dari dekolonisasi, karena sebelumnya bahasa Indonesia tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah kolonial. Yang diajarkan adalah bahasa Melayu, bukan bahasa Indonesia," tegas Bonnie.

​Bonnie juga melontarkan kritik tajam terhadap narasi Barat yang kerap melabeli pemimpin nasionalis Indonesia sebagai kolaborator fasis karena bekerja sama dengan Jepang. Ia membalikkan argumen tersebut dengan merujuk pada pemikiran Sutan Sjahrir.

​Ia mengingatkan audiens bahwa kekejaman fasisme sudah dipraktikkan oleh Belanda jauh sebelum Perang Dunia II pecah di Asia.

​Kritik terhadap Belanda: Bonnie menyebut pemerintahan kolonial Belanda sendiri memiliki watak fasis.
​Bukti Sejarah: Ia merujuk pada pendirian kamp konsentrasi Boven Digul pada Januari 1927 sebagai bukti nyata represi kolonial.

​Menanggapi isu sensitif mengenai permintaan maaf Raja Belanda atas kekerasan di masa lalu, Bonnie memberikan respons yang pragmatis namun lugas. Meski mengapresiasi, ia menganggap hal tersebut barulah sebuah awal yang sangat kecil.

​"Saya merasa permohonan maaf (apology) adalah langkah penting. Namun, sebagai orang Indonesia, saya akan menyebutnya 'lumayan' atau sekadar langkah bayi (baby steps)," ujarnya.

Baca: Masuk Parpol di Usia 24 Tahun, Ganjar: Saya Lahir dari Ideologi

​Di sisi lain, Anne-Lot Hoek menambahkan bahwa kelompok Maluku yang pernah bertempur di pihak Belanda juga layak mendapatkan permohonan maaf serupa karena merasa telah "dikhianati dua kali" oleh sejarah.

​Menutup debat tersebut, Bonnie menekankan pentingnya pertukaran gagasan yang jujur antara kedua negara demi memahami sejarah yang kelam tanpa harus terus terjebak di dalamnya.

​"Kita harus terus mempromosikan aktivitas seperti ini. Pertukaran pikiran adalah cara terbaik untuk memperkuat hubungan sekaligus memahami masa lalu bersama antara Indonesia dan Belanda," pungkas Bonnie.

Quote