Ikuti Kami

Peringatan Dini Gempa, Ahmad Safei Minta Masyarakat Kolaka Utara Respons Cepat

Melalui Sekolah Lapang Gempa Bumi Tahun 2026, BMKG bersama Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara berharap semakin banyak masyarakat yang paham.

Peringatan Dini Gempa, Ahmad Safei Minta Masyarakat Kolaka Utara Respons Cepat
Anggota Komisi V DPR RI H. Ahmad Safei (kiri).

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPR RI H. Ahmad Safei mengingatkan pentingnya memperhatikan setiap informasi peringatan dini yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), khususnya di Kabupaten Kolaka Utara yang memiliki potensi gempa bumi karena berada di antara sejumlah sesar aktif.

"Melalui Sekolah Lapang Gempa Bumi Tahun 2026, BMKG bersama Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara berharap semakin banyak masyarakat yang memahami langkah penyelamatan diri, mengenali informasi resmi kebencanaan, serta mampu menjadi bagian dari upaya pengurangan risiko bencana di daerah", harapnya, Jumat (14/8/2026).

Menurut Ahmad Safei, berbagai kejadian bencana di Indonesia menunjukkan bahwa informasi yang diterima sejak dini harus segera ditindaklanjuti dengan langkah yang tepat. Kecepatan menerima informasi menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan ketika bencana terjadi.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) Tahun 2026 yang digelar BMKG di Kabupaten Kolaka Utara. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengatakan Kolaka Utara berada di antara Sesar Lawanopo di bagian utara dan Sesar Kolaka Segmen North di bagian selatan, serta sejumlah sesar aktif lokal lainnya.

Berdasarkan data BMKG, terdapat sekitar 13 sesar aktif di wilayah tersebut. Sejak tahun 1964 hingga 2026, tercatat sekitar 347 kejadian gempa bumi. Dalam tujuh tahun terakhir terjadi 268 kejadian, sementara sepanjang tahun 2026 telah termonitor sekitar 16 kejadian.

"Sebagian besar gempa memang tidak dirasakan masyarakat, tetapi seluruh aktivitas tersebut tetap tercatat oleh sensor BMKG. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa potensi gempa selalu ada sehingga kesiapsiagaan harus terus dibangun", ungkapnya.

Ia juga mengingatkan gempa yang terjadi di Kabupaten Kolaka Timur pada 24 dan 29 Januari 2025 sempat dirasakan hingga Kabupaten Kolaka Utara. Menurutnya, dampak gempa tidak hanya dirasakan di sekitar pusat gempa, tetapi dapat menjangkau wilayah lain dalam satu zona kegempaan.

Dalam kesempatan tersebut, BMKG menjelaskan bahwa informasi kejadian gempa kini dapat disampaikan kurang dari tiga menit setelah gempa terjadi. Namun, kecepatan informasi tersebut harus diikuti respons cepat pemerintah daerah dan masyarakat melalui sistem peringatan dini yang telah tersedia.

Sekolah Lapang Gempa Bumi diikuti 64 peserta dari unsur BPBD, organisasi perangkat daerah, aparat, sekolah, media, masyarakat, serta tim pendamping Komisi V DPR RI.

Selain mendapatkan materi mengenai potensi gempa dan mitigasi bencana, peserta juga mengikuti simulasi evakuasi mandiri serta Table Top Exercise (TTX) untuk memperkuat koordinasi penyampaian informasi saat terjadi gempa.

Bupati Kolaka Utara Drs. H. Nurrahman Umar mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah penting dalam membangun kapasitas masyarakat menghadapi ancaman bencana.

Menurutnya, pengetahuan mengenai mitigasi gempa tidak cukup dimiliki oleh peserta pelatihan saja, tetapi perlu disebarluaskan kepada keluarga dan masyarakat sehingga budaya siaga bencana dapat tumbuh di tengah kehidupan sehari-hari.

"Kami mengapresiasi BMKG yang telah menyelenggarakan Sekolah Lapang Gempa Bumi di Kabupaten Kolaka Utara. Pemerintah daerah berkomitmen mendukung penguatan mitigasi bencana agar masyarakat semakin siap menghadapi berbagai potensi bencana," kata Bupati.

Melalui kegiatan tersebut, BMKG bersama Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara dan Komisi V DPR RI mendorong penguatan pemahaman masyarakat mengenai potensi gempa, informasi resmi kebencanaan, hingga langkah evakuasi mandiri. Upaya tersebut diharapkan dapat membangun budaya siaga sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Quote