Jakarta, Gesuri.id - Anggota MPR RI Putra Nababan mengungkapkan selama ini Pancasila lebih sering dipahami sebagai konsep teoritis yang dihafal dan belum sepenuhnya diwujudkan dalam tindakan nyata.
Menurut Putra, nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan, dan toleransi masih menghadapi tantangan dalam penerapannya, terutama di tengah dinamika sosial dan perkembangan era digital.
"Pendekatan sosialisasi perlu diubah agar lebih kontekstual dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Pancasila tidak cukup hanya diajarkan, tetapi harus dirasakan dan dipraktikkan secara langsung melalui kegiatan nyata di masyarakat," ujarnya dalam Sosialisasi 4 Pilar MPR RI, Senin (27/4).

Putra mencontohkan kegiatan seperti kerja bakti, musyawarah warga, hingga aksi sosial menjadi langkah konkret dalam menanamkan nilai-nilai tersebut. Selain itu, lanjutnya, peran keluarga dan lingkungan pendidikan juga dianggap penting sebagai fondasi awal pembentukan karakter berbasis Pancasila.
Namun demikian, Putra menjelaskan kurangnya keteladanan dari sebagian tokoh publik serta masih adanya ketimpangan sosial dinilai menjadi faktor yang memperlebar jarak antara nilai ideal dan realitas di masyarakat. Di sisi lain, ungkapnya, minimnya ruang dialog yang sehat juga menjadi tantangan dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan.
"Untuk mengurangi kesenjangan tersebut, diperlukan komitmen bersama dari seluruh elemen masyarakat. Pancasila tidak hanya harus dipahami sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai pedoman hidup yang diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari," tegas kader PDI Perjuangan tersebut.
Dengan pendekatan yang lebih praktis, inklusif, dan relevan, Putra mengharapkan nilai-nilai Pancasila dapat benar-benar hidup dan menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, adil, dan berkeadaban.

















































































