Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., mengunjungi Albany Shellfish Hatchery di pesisir selatan Western Australia untuk mempelajari penerapan sains, teknologi, dan manajemen modern dalam pengembangan industri akuakultur.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya menggali praktik terbaik pengembangan Blue Food yang dapat menjadi pelajaran bagi transformasi ekonomi kelautan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
"Semua terukur dan berbasis sains. Mulai dari pengelolaan kualitas air, kultur mikroalga sebagai pakan alami, pembenihan, biosecurity yang sangat ketat, hingga monitoring digital dan standar produksi kelas dunia," kata Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini, dalam rilisnya, Rabu (26/8/2026), dilansir dari askara.co.
Menurut Prof. Rokhmin, Albany Shellfish Hatchery menunjukkan bagaimana penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi mampu mengubah potensi sumber daya laut menjadi industri bernilai tambah yang menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.
Beroperasi sejak 2017, Albany Shellfish Hatchery telah menjadi salah satu penopang industri budidaya kerang di Australia Barat. Fasilitas tersebut memproduksi benih unggul oyster, scallop, dan *mussel* atau kerang hijau untuk memasok kebutuhan usaha pembesaran di berbagai wilayah Australia.
Bagi Prof. Rokhmin, keberhasilan fasilitas tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki, melainkan kemampuan mengelola potensi melalui penguasaan teknologi, sumber daya manusia, inovasi, investasi, serta tata kelola yang baik.
"Keberhasilan akuakultur tidak ditentukan oleh seberapa besar potensi sumber daya alam kita. Australia membuktikan, penentunya adalah kemampuan mengubah potensi menjadi produktivitas, nilai tambah, lapangan kerja, dan kesejahteraan. Kuncinya adalah penguasaan IPTEK, SDM unggul, inovasi, investasi, dan tata kelola," tegasnya.
Ia menilai Indonesia sesungguhnya memiliki modal alam yang sangat besar sebagai negara kepulauan dengan biodiversitas laut yang melimpah. Namun, potensi tersebut, menurutnya, tidak akan secara otomatis berubah menjadi kemakmuran tanpa transformasi sistem ekonomi dan industri berbasis inovasi.
Prof. Rokhmin menilai Indonesia masih cenderung mengandalkan pola *resource-based economy*, sementara negara-negara yang telah maju dalam industri akuakultur mampu bergerak menuju innovation and knowledge-based economy.
Untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama Blue Food dunia, ia menekankan perlunya pembangunan sistem industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Sistem tersebut meliputi pengembangan hatchery benih berkualitas, teknologi budidaya yang produktif dan ramah lingkungan, pakan efisien, pengendalian penyakit, digitalisasi, hilirisasi produk, penguatan cold chain, hingga perluasan akses pasar global.
"Blue Economy bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi dari laut. Blue Economy adalah memastikan setiap aktivitas ekonomi dari laut menghasilkan kesejahteraan manusia sekaligus menjaga kesehatan dan keberlanjutan ekosistemnya," tambah tokoh yang dijuluki Bapak Blue Economy Indonesia itu.
Prof. Rokhmin menambahkan, kunjungan dan pembelajaran terhadap keberhasilan negara lain dapat membuka peluang kolaborasi internasional dalam mempercepat transformasi sektor kelautan Indonesia. Namun, ia menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu menyalin sistem yang diterapkan Australia secara mentah.
"Tugas kita adalah mengambil best practices, teknologi, kultur inovasi, dan sistem manajemen yang terbukti berhasil, lalu kita kembangkan sesuai dengan karakteristik ekologis, sosial, dan ekonomi Indonesia yang unik," jelas Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004 itu.
Menurutnya, transformasi akuakultur akan menjadikan sektor tersebut tidak lagi sekadar kegiatan budidaya perikanan. Akuakultur dapat menjadi instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan pangan dan gizi nasional, mengentaskan kemiskinan di wilayah pesisir, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan devisa ekspor, serta menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
Prof. Rokhmin menegaskan Indonesia harus mampu memanfaatkan potensi kelautannya untuk tampil sebagai pemain utama dalam industri perikanan dan ekonomi biru dunia.
"Dengan potensi kelautan yang kita miliki, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar atau pemasok bahan mentah dunia. Indonesia harus tampil sebagai kekuatan utama industri perikanan, akuakultur, Blue Food, dan Blue Economy dunia. Laut yang sehat, industri yang maju, dan masyarakat pesisir yang sejahtera adalah fondasi menuju Indonesia Emas 2045," pungkasnya.

















































































