Ngawi, Gesuri.id – Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Ngawi menyampaikan berbagai aspirasi kepada Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini.
Aspirasi tersebut disampaikan dalam pertemuan yang berlangsung di kawasan wisata Sumber Koso, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, Kamis (27/8).
Dalam forum tersebut, para pelaku UMKM tidak hanya menyampaikan persoalan pengembangan usaha, tetapi juga mengungkapkan sejumlah kebutuhan yang berkaitan dengan ekonomi kreatif dan potensi wisata daerah.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
Beberapa aspirasi yang disampaikan antara lain kebutuhan pendampingan bagi masyarakat yang ingin membentuk event organizer, dukungan terhadap pembangunan akses jalan menuju kawasan wisata, serta harapan agar produk UMKM lokal dapat terserap secara maksimal melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian cukup besar adalah keberadaan KDMP. Pelaku UMKM mengkhawatirkan koperasi tersebut justru menjadi pesaing bagi usaha kecil yang selama ini telah berkembang di tengah masyarakat.
Kekhawatiran itu muncul karena sejumlah gerai KDMP dinilai masih menampilkan produk pabrikan berskala besar. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat produk UMKM lokal semakin sulit memperoleh ruang pemasaran.
Novita Hardini menilai keresahan tersebut merupakan aspirasi penting yang perlu diperjuangkan di tingkat pusat.
Menurutnya, gagasan pembentukan KDMP pada dasarnya memiliki tujuan yang baik, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Namun, implementasinya di lapangan perlu dikawal agar tetap sesuai dengan tujuan awal.
Ia menilai masih terdapat celah ketidakadilan dan ketidaksinkronan antara cita-cita pembentukan KDMP dan praktik yang terjadi di lapangan.
“Seharusnya dengan adanya Kopdes, barang-barang yang nantinya masuk, mengisi, kemudian di-display dan dijual di Kopdes adalah produk-produk UMKM-nya wong cilik,” ujar Novita.
Ia menegaskan, keberadaan KDMP semestinya menjadi ruang bagi produk lokal untuk tumbuh dan berkembang. Menurutnya, pemerintah perlu hadir dengan memberikan akses pasar yang lebih luas kepada pelaku UMKM, khususnya mereka yang masih berada dalam tahap merintis dan mengembangkan usaha.
Keresahan yang disampaikan para pelaku UMKM Ngawi tersebut, lanjut Novita, akan dibawa sebagai aspirasi ke Senayan.
“Ini akan menjadi satu bahan suara yang nanti akan saya suarakan di Senayan. Perlu ada audit lebih dalam lagi, lebih mendetail lagi tentang barang-barang siapa yang bisa memasuki Koperasi Desa Merah Putih,” tegasnya.
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
Selain persoalan penyerapan produk UMKM, Novita mengingatkan agar KDMP tidak disalahgunakan sehingga justru menjadi pesaing bagi warung dan toko kelontong yang telah lebih dahulu tumbuh di masyarakat.
Menurut dia, KDMP idealnya berfungsi sebagai ruang komunal yang melengkapi ekosistem ekonomi desa, bukan mengambil pangsa pasar usaha kecil yang sudah ada.
“Koperasi Desa Merah Putih tidak boleh menjadi ancaman bagi UMKM. Harusnya menjual produk-produk yang tidak dijual oleh toko-toko kelontong yang ada di sekitar Kopdes sehingga tidak menjadi pesaing, tetapi mestinya menjadi komunal,” jelasnya.
Dengan konsep tersebut, Novita berharap KDMP dapat menjadi etalase bersama bagi produk masyarakat desa. Produk UMKM lokal dapat memperoleh ruang pemasaran yang lebih luas, sementara warung dan toko kelontong di sekitar koperasi tetap dapat menjalankan usahanya.
“Lebih ke komunal harusnya, bukan menjadi pesaing,” pungkas Novita.

















































































