Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri: Kedaulatan Pangan Fondasi Utama Kemajuan, Kesejahteraan, Stabilitas Ekonomi Nasional

Pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang paling penting karena menentukan kesehatan, kecerdasan, dan kelangsungan hidup.

Rokhmin Dahuri: Kedaulatan Pangan Fondasi Utama Kemajuan, Kesejahteraan, Stabilitas Ekonomi Nasional
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Rokhmin Dahuri, dalam acara Business Forum yang diselenggarakan oleh Himpunan Alumni IPB di Hotel Borobudur Jakarta, Sabtu (2/5/20206).

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Rokhmin Dahuri, menegaskan kedaulatan pangan merupakan fondasi utama bagi kemajuan, kesejahteraan, dan stabilitas ekonomi nasional, dalam acara Business Forum yang diselenggarakan oleh Himpunan Alumni IPB di Hotel Borobudur Jakarta.

“Pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang paling penting karena menentukan kesehatan, kecerdasan, dan kelangsungan hidup,” ujar Guru Besar IPB University tersebut, dikutip Senin (4/5/2026).

Dalam forum tersebut, Rokhmin memaparkan kajian strategis bertajuk “Transformasi Sistem Pangan Nasional Menuju Swasembada Pangan yang Mensejahterakan dan Berkelanjutan.” 

Ia juga mengutip pidato bersejarah Soekarno tahun 1957 yang menegaskan bahwa urusan pangan merupakan masalah hidup-matinya sebuah bangsa, terutama bagi negara dengan populasi besar.

Ia menambahkan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) sangat dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi, sejalan dengan prinsip you are what you eat. Namun demikian, ia menyoroti ironi Indonesia sebagai negara kepulauan dan agraris tropis terbesar yang hingga kini belum mampu mewujudkan swasembada pangan yang menyejahterakan produsennya secara berkelanjutan.

Dalam paparannya, Rokhmin mengungkapkan bahwa ketergantungan impor terhadap komoditas pangan strategis masih tinggi. Pada tahun 2025, volume impor delapan komoditas utama, termasuk beras, jagung, dan gula, mencapai 29,15 juta ton.

Ia juga menyoroti berbagai tantangan struktural, mulai dari rendahnya produktivitas sektor pertanian hingga tingkat kesejahteraan petani dan nelayan yang masih rendah. Pada 2025, produktivitas tenaga kerja pertanian tercatat sebesar Rp24,8 juta per pekerja per tahun, jauh tertinggal dibandingkan sektor industri yang mencapai Rp161 juta. Rata-rata pendapatan petani padi di Jawa bahkan hanya sekitar Rp2,25 juta per bulan.

Selain itu, sektor pangan Indonesia menghadapi ancaman serius dari perubahan iklim seperti fenomena El-Nino dan La-Nina, serta dampak konflik geopolitik global yang mengganggu rantai pasok pangan dunia. Alih fungsi lahan pertanian yang mencapai sekitar 60.000 hektare per tahun juga menjadi tantangan bagi keberlanjutan produksi domestik.

Sebagai solusi, Rokhmin mendorong transformasi sistem pangan melalui peningkatan skala ekonomi (economy of scale), penerapan teknologi mutakhir, serta penguatan manajemen rantai pasok yang terintegrasi. Ia juga menekankan pentingnya sinergi alumni dan kebijakan politik-ekonomi yang kondusif guna menarik investasi di sektor pangan.

Forum bisnis ini sekaligus menjadi ajang konsolidasi para alumni IPB untuk merumuskan langkah strategis dalam mendukung target swasembada pangan pemerintah, sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkeadilan bagi seluruh rakyat.

Quote