Ikuti Kami

Rupiah Tembus Rp17.600, Harris Turino Soroti Masalah Domestik dan Kepercayaan Investor

Menurutnya, ada persoalan domestik serius serta penurunan tingkat kepercayaan investor yang turut membebani mata uang Garuda.

 Rupiah Tembus Rp17.600, Harris Turino Soroti Masalah Domestik dan Kepercayaan Investor
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Harris Turino.

​Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Harris Turino, menilai tren pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut tidak semata-mata dipicu oleh tekanan global. 

Menurutnya, ada persoalan domestik serius serta penurunan tingkat kepercayaan investor yang turut membebani mata uang Garuda.

​"Tekanan global memang diakui sangat besar. Tetapi harus diakui juga bahwa ada masalah serius di domestik, Pak," ujar Harris dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (18/5).

​Harris memaparkan, persoalan domestik yang dimaksud mencakup masalah fiskal, defisit transaksi berjalan (current account deficit), fenomena arus modal keluar (capital outflow) dalam jumlah besar, hingga merosotnya kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

​Kondisi tersebut, lanjut Harris, tercermin dari nilai tukar rupiah yang kini telah menyentuh level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Padahal di sisi lain, Bank Indonesia telah mengerahkan berbagai instrumen stabilisasi moneter secara agresif.
​Efektivitas Amunisi BI Dipertanyakan

​Dalam rapat tersebut, Harris menyoroti berbagai langkah intervensi besar-besaran yang telah dilakukan BI di pasar valuta asing (valas). Langkah ini bahkan telah menguras cadangan devisa negara, dari yang sebelumnya AS156 miliar menyusut menjadi sekitar AS146 miliar.

​Selain intervensi valas, BI juga telah menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga 6,41% serta aktif membeli Surat Berharga Negara (SBN). Sepanjang tahun 2025, BI tercatat membeli SBN sebesar Rp332 triliun dan kembali menambah pembelian sebesar Rp133 triliun pada tahun ini. Pengetatan pembelian dolar AS pun telah diberlakukan, yakni menurunkan batas pembelian tanpa dokumen underlying dari AS50.000 menjadi AS25.000.

​"Maka pertanyaan kritisnya adalah semua instrumen yang dimiliki BI sudah dilakukan. Tetapi why? Kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?" tanya Harris.

​Harris menilai akar masalah saat ini terletak pada faktor psikologis pasar. Secara teoretis, ketika investor asing keluar dari pasar saham, mereka seharusnya mengalihkan dana ke pasar surat utang negara seiring dengan kenaikan tingkat imbal hasil (yield). Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda.

​"Seharusnya mereka hanya mengimbangi portofolio antar-instrumen di dalam rupiah. Ini saat ini tidak terjadi, sehingga ada isu kepercayaan yang cukup besar di sini," jelasnya. 

Ia juga menambahkan bahwa pasar belum meyakini posisi rupiah saat ini sudah terlalu murah (undervalued), sehingga permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar

​Meski melayangkan kritik tajam, Harris tetap mengapresiasi kerja keras BI dalam membentengi stabilitas moneter agar rupiah tidak terpuruk lebih dalam.

​"Saya mengapresiasi, Pak. Bapak mampu menjaga stabilitas moneter, paling tidak saat ini masih di Rp17.600, jangan sampai lebih turun lagi," tuturnya.

​Kendati demikian, Harris mengingatkan bahwa keberhasilan stabilitas rupiah tidak boleh hanya diukur dari indikator internal BI semata. "Stabilitas ini jangan berhenti di indikator-indikator internal. Tetapi stabilitas ini adalah stabilitas yang harus dirasakan juga dampaknya oleh masyarakat dan pelaku usaha," pungkas Harris.

Quote