Ikuti Kami

Sofyan Tan Tegaskan Perjuangan Melawan Stunting Dimulai dari Pengorbanan Ibu di Masa Kehamilan

Sofyan Tan menyoroti betapa eratnya kaitan antara kemiskinan dan risiko stunting.

Sofyan Tan Tegaskan Perjuangan Melawan Stunting Dimulai dari Pengorbanan Ibu di Masa Kehamilan
Anggota Komisi X DPR RI, dr Sofyan Tan.

Medan, Gesuri.id – Anggota Komisi X DPR RI, dr Sofyan Tan, menekankan bahwa pencegahan stunting bukan sekadar mengejar target fisik anak, melainkan investasi kecerdasan bangsa. 

Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Bimbingan Teknis "Faktor Risiko Stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan" yang digelar atas kerja sama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Komisi X DPR RI di Hotel Le Polonia, Medan, Jumat (13/2).

Menurut Sofyan Tan, periode 1.000 hari pertama kehidupan—yang mencakup masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun—adalah periode emas yang tak boleh terabaikan.

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak 

Dalam paparannya, dr. Sofyan Tan menyoroti betapa eratnya kaitan antara kemiskinan dan risiko stunting. Ia mengungkapkan sisi emosional dari seorang ibu yang sering kali mengabaikan kesehatannya sendiri demi anak-anaknya.

"Ibu adalah 'pembohong terbesar' demi anak-anaknya. Saat makanan terbatas, ibu akan berkata sudah kenyang padahal ia menahan lapar agar anaknya bisa makan lebih dulu," tutur Sofyan dengan nada getir.

Sayangnya, pengorbanan ini menjadi bumerang bagi kesehatan janin. Ibu yang kurang gizi, pucat, sering pusing, dan mengalami anemia (kurang darah) menjadi indikator awal risiko stunting pada bayi yang dikandungnya. Selain faktor asupan, ia juga mengingatkan bahaya jarak kehamilan yang terlalu dekat.

"Belum setahun melahirkan sudah hamil lagi. Tubuh ibu belum pulih, bahkan mungkin masih menyusui. Ini sangat berisiko bagi kesehatan ibu dan bayi," tambahnya.

Dari sisi medis, dr. Sofyan Tan menjelaskan detail fisik yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Ia menekankan pentingnya usia kehamilan ideal antara 38 hingga 40 minggu.

"Bayi yang lahir prematur, misalnya di bawah 32 minggu, memiliki risiko tinggi. Sekat dan katup jantung mereka mungkin belum menutup sempurna. Hal ini menyebabkan oksigen dan karbon dioksida bercampur, sehingga suplai oksigen ke otak tidak optimal dan menghambat perkembangan," jelas dokter lulusan Universitas Metode Indonesia ini.

​Ia juga memaparkan standar fisik bayi lahir sehat:

1. ​Berat Badan: 2,4–3,7 kg (perempuan) dan 2,5–3,9 kg (laki-laki).

2. ​Panjang Badan: 46–53 sentimeter.

3. ​Proporsi Kepala: Harus seimbang dengan tubuh untuk memastikan pertumbuhan otak yang baik.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

​Memasuki usia satu hingga dua tahun, orang tua diminta waspada jika kulit anak tampak kering, bersisik, atau lambat kembali saat dicubit (turgor kulit rendah). Secara perilaku, anak yang kekurangan gizi cenderung rewel, mudah menangis, dan kurang ceria karena kondisi fisik yang tidak nyaman.

​Sebagai solusi konkret, ia mendorong ibu hamil mengonsumsi protein tinggi seperti telur dan ikan, serta memberikan ASI eksklusif setelah bayi lahir.

​Mengejar Ketertinggalan IQ

​Senada dengan hal tersebut, Peneliti Ahli Muda BRIN, Slamet Riyanto, S.Gz., M.PH., mengungkapkan bahwa angka stunting di Sumatera Utara masih di angka 22% berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).

​"Mencegah stunting bukan sekadar supaya anak tidak pendek. Yang jauh lebih penting adalah menjaga agar IQ anak tidak rendah. Kita ingin generasi yang kompetitif, bukan generasi dengan kecerdasan yang tertinggal," pungkas Slamet.

Quote