Jakarta, Gesuri.id - Serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran diprediksi memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi ini dikhawatirkan berdampak langsung pada lonjakan harga minyak dunia.
Anggota Komisi XII DPR RI, Yulian Gunhar mengingatkan pemerintah untuk segera mengantisipasi kemungkinan terburuk tersebut.
BaCa: Ganjar Pranowo Bongkar Akar Sistemik Korupsi:
“Kita ini masih negara yang bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah,” kata Gunhar dalam keterangannya, Selasa (3/3).
Gunhar menyoroti kondisi Selat Hormuz yang kini berada dalam situasi tidak pasti setelah Iran disebut menutup jalur tersebut. Selat Hormuz diketahui melayani lebih dari 20 persen lalu lintas minyak global.
"Dampaknya akan langsung terasa pada ketersediaan bahan bakar dalam negeri,” kata Gunhar.
Ia meminta pemerintah fokus mengantisipasi harga minyak dunia yang berpotensi melonjak tajam jika gangguan distribusi berlangsung lama. Bahkan, menurutnya para pakar energi memperkirakan harga bisa mendekati atau melampaui 100 dolar AS per barel.
“Kalau gangguan di Selat Hormuz ini berkepanjangan, harga minyak bisa langsung mendekati bahkan melampaui 100 dolar per barel,” kata Yulan Gunhar.
BaCa: Ganjar Pranowo Tak Ambil Pusing Elektabilitas Ditempel Ketat
Kondisi tersebut, lanjut Gunhar, akan menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama pada pos subsidi bahan bakar minyak (BBM).
“Kenaikan harga minyak dunia sudah pasti akan menambah beban berat APBN kita, khususnya untuk subsidi BBM. Ini harus diantisipasi dari sekarang,” kata Gunhar.

















































































