Jakarta, Gesuri.id - Sosok KH Nu’man Bashori (Gus Nu’man) selama ini di Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) dan PDI Perjuangan, dikenal sebagai ulama sekaligus kader partai yang konsisten dalam mengartikulasikan nilai-nilai keislaman yang selaras dengan semangat kebangsaan.
Dalam berbagai kesempatan, Gus Nu’man kerap menegaskan pentingnya menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, sekaligus memperkuat komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pada 2017, contohnya, Gus Nu’man menyerukan agar umat Islam mewaspadai kelompok sontoloyo yang mengatasnamakan Islam, yang semakin terang-terangan menentang konstitusi NKRI. Kelompok ini, menurut Gus Nu’man, juga sering menggunakan isu-isu SARA untuk memecah belah NKRI.
Melalui Bamusi, ia aktif mendorong penguatan pemahaman keagamaan yang inklusif, toleran, dan berorientasi pada persatuan bangsa. Di bawah kontribusi tokoh seperti Gus Nu’man, Bamusi tidak hanya menjadi ruang dakwah, tetapi juga wadah konsolidasi umat dalam mendukung pembangunan nasional yang berlandaskan Pancasila.
Di internal PDI Perjuangan, Gus Nu’man juga dikenal sebagai kader yang mampu merawat keseimbangan antara identitas keislaman dan komitmen ideologis partai. Ia kerap menekankan bahwa nilai-nilai Islam seperti keadilan, gotong royong, dan kemanusiaan memiliki irisan kuat dengan prinsip-prinsip kebangsaan yang diperjuangkan partai.
Harus diakui, figur seperti Gus Nu’man menjadi penting di tengah dinamika sosial-politik yang kerap diwarnai polarisasi identitas. Kehadirannya mampu menjadi jembatan antara kelompok religius dan nasionalis, sekaligus memperkuat narasi bahwa Islam dan nasionalisme bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Dengan konsistensinya tersebut, Gus Nu’man menjadi representasi kader partai yang tidak hanya bergerak di ranah politik praktis, tetapi juga aktif dalam membangun kesadaran keagamaan yang moderat dan berwawasan kebangsaan. Kiprahnya menjadi contoh bagaimana nilai-nilai keislaman dapat berjalan seiring dengan komitmen terhadap persatuan dan keutuhan bangsa.
Kini, sang ulama pembawa ‘obor’ semangat keislaman dan kebangsaan itu telah meninggalkan kefanaan. Beliau telah beristirahat dengan tenang dalam alam keabadian.
Disadur dari energijuangnews.com

















































































