Ikuti Kami

Megawati Menangis Saksikan Film 'Pesta Babi', Kritisi Alih Fungsi Hutan Jadi Sawit

Megawati mengkritik masifnya alih fungsi lahan yang dinilai mengorbankan hak-hak masyarakat adat.

Megawati Menangis Saksikan Film 'Pesta Babi', Kritisi Alih Fungsi Hutan Jadi Sawit
Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri.

​Yogyakarta, Gesuri.id — Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, mengaku tak kuasa menahan air mata setelah menyaksikan film dokumenter terbaru karya Dandhy Laksono yang berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

​Hal tersebut diungkapkan Megawati saat menjadi pembicara dalam forum bertajuk Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan: Orkestrasi Pengetahuan, Inovasi, dan Geopolitik dalam Ekonomi Biru Indonesia di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (22/5).

Baca: Milenial & Gen Z Balikpapan Antusias Ngobrol Bareng Ganjar

​"Saya kemarin menangis ketika melihat film Pesta Babi. Itu benar adanya," ujar Megawati seperti dikutip dari laman resmi UGM, Senin (25/5/2026).

​Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut mengungkapkan keprihatinan mendalamnya terhadap kondisi hutan Indonesia saat ini. Ia mengkritik masifnya alih fungsi lahan yang dinilai mengorbankan hak-hak masyarakat adat.

​"Sudah seberapa banyak hutan hanya dijadikan tanaman sawit? Untuk apa? Di sana ada tradisi adat, ada hukum adat, ada hukum wilayah. Mereka minta dihargai, apakah salah?" tegas Megawati.

​Tak hanya menyoroti masalah eksploitasi hutan, putri Proklamator RI Bung Karno ini juga menyayangkan arah pembangunan nasional yang selama ini dinilai belum sepenuhnya memanfaatkan potensi laut. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan hayati laut yang melimpah serta berada di posisi geopolitik yang sangat strategis.

​"Indonesia itu bukan sekadar negara daratan. Kita adalah bangsa maritim dengan posisi strategis di kawasan Samudra Hindia dan Pasifik," jelas Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut.

Baca: Ganjar Beri Kunci Untuk Dapatkan Pekerjaan Bagi Generasi Muda

​Megawati mengingatkan kembali esensi dari konsep "Tanah Air". Menurutnya, laut seharusnya dipandang sebagai pemersatu wilayah sekaligus sumber peradaban, bukan sekadar pemisah antarpulau. Ia pun mengajak publik untuk menengok kembali gagasan geopolitik Bung Karno yang bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai kekuatan maritim dunia.

​Di akhir pemaparannya, Megawati menekankan bahwa penguatan riset, inovasi, dan kedaulatan maritim wajib berpijak pada nilai-nilai Pancasila. Pembangunan kelautan Indonesia harus tetap menjaga identitas bangsa dan memegang teguh semangat berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) yang diwariskan oleh para pendiri bangsa.

Quote