Ikuti Kami

Moderasi Beragama Perwujudan Gotong Royong & Ajaran Bung Karno, Kariyasa Ajak Mahasiswa Lawan Intoleransi

Kariyasa menekankan bahwa moderasi beragama adalah instrumen strategis negara untuk menjaga ketahanan sosial.

Moderasi Beragama Perwujudan Gotong Royong & Ajaran Bung Karno, Kariyasa Ajak Mahasiswa Lawan Intoleransi
Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, I Ketut Kariyasa Adnyana, S.P.,

​Buleleng, Gesuri.id — Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, I Ketut Kariyasa Adnyana, S.P., menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan perwujudan nyata dari ajaran Bung Karno dan semangat gotong royong.

Hal tersebut disampaikan Kariyasa dalam Sosialisasi Kebangsaan bertajuk "Moderasi Beragama & Ketahanan Sosial" di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Buleleng, Bali.

​Acara yang mengusung subtema "Menumbuhkan Sikap Moderat & Harmoni Sosial di Tengah Keberagaman" ini diikuti oleh puluhan mahasiswa Undiksha. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tugas konstitusional Komisi VIII DPR RI yang membidangi urusan agama, sosial, dan penanggulangan bencana.

Baca: Empat Keberhasilan Ganjar Pranowo Selama Menjadi Gubernur

​Dalam pemaparannya, Kariyasa menekankan bahwa moderasi beragama adalah instrumen strategis negara untuk menjaga ketahanan sosial. Komisi VIII DPR RI memiliki tanggung jawab memastikan seluruh warga negara mendapatkan perlindungan dan keadilan tanpa diskriminasi berbasis agama.

​"Ini adalah kerja ideologis. Sesuai arahan Ketua Umum Ibu Megawati Soekarnoputri, kader PDI Perjuangan harus berdiri di garda terdepan untuk menjaga Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Moderasi beragama bukan sekadar teori, melainkan praktik gotong royong dalam beragama," tegas politisi asal Bali tersebut.

​Ia menambahkan, nilai-nilai moderasi beragama selaras dengan prinsip Trisakti Bung Karno, khususnya berkepribadian dalam kebudayaan. Menurutnya, kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik Indonesia sulit terwujud jika masyarakat terpecah belah oleh intoleransi.

​"Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama. Esensinya adalah saling melindungi martabat kemanusiaan," ujar Kariyasa.
​
​Di hadapan para mahasiswa, Kariyasa mengaitkan moderasi beragama dengan kearifan lokal Bali, yakni Menyama Braya (semangat persaudaraan). Menurutnya, tradisi lokal Buleleng ini mencerminkan roh gotong royong yang menjadi fondasi perjuangan PDI Perjuangan.

​"Di Buleleng ada Menyama Braya, di PDI Perjuangan ada Gotong Royong. Keduanya berjalan beriringan. Mahasiswa Undiksha yang berasal dari berbagai daerah—Bali, Jawa, Lombok, hingga NTT—adalah miniatur Indonesia. Jika kerukunan terjaga di lingkungan kampus, Indonesia pasti kuat," tuturnya.

​Sebagai mitra kerja Kementerian Agama dan Kementerian Sosial, Komisi VIII DPR RI terus mendorong penguatan program moderasi beragama agar tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi menyasar kurikulum pendidikan, penyuluh agama, dan penyaluran bantuan sosial.

​Kariyasa juga menyoroti tantangan di era digital, khususnya penyebaran hoaks dan konten intoleran di media sosial. Ia mengajak para mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang bijak dalam menyaring informasi.

Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo 

​"Jangan biarkan algoritma media sosial memecah belah kita. Jika menemukan konten provokatif, lakukan klarifikasi terlebih dahulu. Kader PDI Perjuangan dan generasi muda harus menjadi pelopor penegak nalar publik. Verifikasi sebelum membagikan—itulah bentuk sikap moderat di era digital," tegasnya.

​Kegiatan interaktif ini ditutup dengan komitmen bersama seluruh peserta untuk menjadi agen moderasi beragama di lingkungan masing-masing. Panitia mahasiswa mengapresiasi dialog kebangsaan tersebut karena dinilai aplikatif dan tidak menggurui.

​"PDI Perjuangan akan terus hadir di tengah rakyat, kampus, dan desa adat untuk memastikan api semangat kebangsaan tetap menyala," pungkas Kariyasa.

Quote