Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri Ingatkan Kejayaan Umat Islam Kembali Jika Iman, Takwa, dan Menjalankan Islam Secara Kaffah

"Ini bukan teori, ini fakta sejarah yang terbukti," tegas Prof. Rokhmin.

Rokhmin Dahuri Ingatkan Kejayaan Umat Islam Kembali Jika Iman, Takwa, dan Menjalankan Islam Secara Kaffah
Anggota Komisi IV DPR RI, sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI, sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, mengingatkan kejayaan umat Islam dapat kembali terwujud apabila umat kembali memperkuat keimanan, ketakwaan, serta menjalankan ajaran Islam secara kaffah atau menyeluruh. Menurutnya, hal tersebut merupakan pelajaran penting yang terkandung dalam QS An-Nur ayat 54 hingga 57.

"Ini bukan teori, ini fakta sejarah yang terbukti," tegas Prof. Rokhmin dalam tausiyahnya, Senin (24/8/2026).

Dalam tausiyah tersebut, Prof. Rokhmin mengawali pembahasan dengan membacakan empat ayat kunci dari QS An-Nur ayat 54 hingga 57. Menurutnya, ayat-ayat tersebut memberikan pedoman mengenai hubungan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dengan kehidupan umat, termasuk janji Allah bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.

Ia menjelaskan, QS An-Nur ayat 54 menekankan kewajiban umat untuk taat kepada Allah dan Rasulullah. Sementara ayat 55 memuat janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa berupa kekuasaan di bumi, keteguhan agama, serta perubahan kondisi dari ketakutan menjadi aman sentosa.

Adapun QS An-Nur ayat 56, kata Prof. Rokhmin, menegaskan tiga hal utama, yakni melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Rasulullah agar memperoleh rahmat Allah. Sedangkan ayat 57 mengingatkan bahwa orang-orang kafir tidak akan dapat luput dari siksaan Allah.

Menurut Prof. Rokhmin, rangkaian ayat tersebut memiliki relevansi kuat dengan kondisi umat Islam saat ini. Ia menyebut terdapat formula penting yang harus dijalankan apabila umat ingin kembali meraih kejayaan, yakni iman, takwa, dan menjalankan Islam secara *kaffah*.

Prof. Rokhmin mengatakan, ketika umat Islam beriman dan bertakwa kepada Allah serta melaksanakan Islam secara menyeluruh, maka janji Allah adalah kehidupan yang sukses dan bahagia di dunia maupun akhirat, termasuk memperoleh kehidupan yang aman dan sejahtera.

Ia kemudian mencontohkan sejarah kejayaan peradaban Islam sejak zaman Rasulullah SAW hingga sekitar abad ke-18 Masehi. Menurutnya, periode tersebut merupakan masa The Golden Age of Moslem, ketika peradaban Islam berkembang luas dan menjadi salah satu pusat kemajuan dunia.

Pada masa tersebut, Prof. Rokhmin menyebut kehidupan masyarakat berkembang dalam berbagai bidang, mulai dari ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, hingga tata kehidupan sosial. Ia juga menyoroti berkembangnya sistem zakat dan perekonomian yang menurutnya berperan dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Prof. Rokhmin turut menyebut sejumlah ilmuwan Muslim yang berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia, di antaranya Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, Ibnu Al-Khawarizmi dalam matematika dan algoritma, Ibnu Battutah dalam kelautan dan geografi, Ibnu Al-Haitham dalam bidang optik, Abbas Ibn Firnas dalam bidang dirgantara, serta Ibnu Khaldun dalam ilmu ketatanegaraan dan sosiologi.

"Semua kemajuan itu lahir karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Islam menjadi sistem hidup, bukan hanya ritual," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001 - 2004.

Namun, Prof. Rokhmin menilai kondisi tersebut berubah ketika umat Islam mulai meninggalkan ajaran agamanya dan tidak lagi menjalankannya secara kaffah. Ia menyebut sekularisme sebagai salah satu faktor yang menurutnya turut menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran.

Menurutnya, keterpurukan tersebut semakin terlihat setelah runtuhnya Khilafah Islamiyah di Turki pada 1924 Masehi. Ia menilai dunia Islam kemudian terpecah menjadi negara-negara kecil yang rentan menghadapi konflik dan eksploitasi.

"Kita dari penguasa 2/3 dunia, menjadi yang dikuasai. Dari pusat ilmu pengetahuan, menjadi konsumen ilmu pengetahuan. Ini karena kita berpaling dari amanah QS An-Nur 54 itu," jelas pakar kelautan yang juga dikenal sebagai dai dan cendekiawan Muslim itu.

Prof. Rokhmin kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan kondisi umat Islam di Indonesia. Ia menyoroti data Kementerian Agama RI tahun 2025 yang menyebut umat Islam Indonesia yang melaksanakan salat lima waktu secara rutin hanya 39 persen.

"Padahal sholat adalah Rukun Islam kedua. Sholat adalah tiang agama," kata Ketua Dewan Pakar ICMI sambil mengutip hadits, "Ash-sholatu 'imaduddiin" (HR. Bukhari).

Ia juga mengingatkan bahwa salat merupakan amal pertama yang akan diperhitungkan pada Hari Akhir. Karena itu, menurutnya, rendahnya tingkat pelaksanaan salat harus menjadi bahan introspeksi bagi umat Islam.

"Dan amalan pertama dari manusia yang pertama akan dihisab di Hari Akhir nanti adalah Sholatnya," lanjutnya mengutip hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim.

Prof. Rokhmin menilai kondisi tersebut perlu menjadi bahan renungan bersama. Menurutnya, apabila salat sebagai salah satu pilar utama agama masih banyak ditinggalkan, maka umat perlu melakukan evaluasi terhadap kualitas kehidupan beragama dan kontribusinya dalam membangun peradaban.

Ia kemudian mengajak umat Islam kembali memperkuat tiga pilar yang disebut dalam QS An-Nur ayat 56, yakni melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menaati Rasulullah SAW. Menurutnya, ketaatan tersebut harus diwujudkan secara menyeluruh dalam kehidupan.

"Rahmat itu bukan hanya masuk surga, tapi juga berkuasa di bumi, aman sentosa, adil dan makmur seperti yang dijanjikan di ayat 55. Kuncinya satu: Taat. Taat kepada Allah dan Taat kepada Rasul secara kaffah, bukan setengah-setengah," tuturnya.

Prof. Rokhmin berharap tausiyah tersebut menjadi pengingat sekaligus dorongan bagi umat Islam untuk memperbaiki kualitas keimanan, ibadah, dan kehidupan sosial. Ia menilai kebangkitan peradaban Islam membutuhkan komitmen umat untuk kembali menjalankan nilai-nilai agama secara konsisten dan menyeluruh.

Quote