Jakarta, Gesuri.id – Wasekjen DPP PDI Perjuangan Bidang Komunikasi Adian Napitupulu mengungkapkan bahwa menjelang penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58 pada 27 Juli 1996, para kader dan aktivis mengalami perang psikologis yang berlangsung hampir dua pekan.
Menurut Adian, setiap hari beredar kabar bahwa kantor akan diserbu. Informasi itu membuat para kader, mahasiswa, dan simpatisan terus berjaga siang dan malam di sekitar kantor.
"Hampir setiap hari ada isu penyerbuan. Kami semua datang berjaga sampai malam. Besoknya begitu lagi. Berulang terus," kata Adian dalam Diskusi Tapak Tilas 30 Tahun Tragedi Kudatuli yang digelar PAC PDI Perjuangan Ciracas di Jakarta Timur, Sabtu (25/7).
Ia mengatakan, setelah berlangsung sekitar dua minggu, para aktivis mulai menganggap isu tersebut sekadar kabar bohong. Kondisi itu membuat stamina dan mental para penjaga perlahan terkuras.
"Kami baru sadar belakangan bahwa itu seperti upaya menguras energi. Orang capek terus berjaga, tetapi tidak terjadi apa-apa," ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, ketika penyerbuan benar-benar terjadi pada pagi 27 Juli 1996, jumlah massa yang bertahan di dalam kantor tidak sebanyak hari-hari sebelumnya.
Adian mengingat, informasi penyerbuan yang sebenarnya diterima melalui pesan pager pada dini hari. Saat itu komunikasi masih sangat terbatas sehingga para aktivis menggunakan berbagai istilah sandi agar pesan dapat diteruskan melalui operator.
"Subuh pager berbunyi. Informasinya massa berbaju merah bergerak menuju Diponegoro. Kami langsung berangkat dari berbagai titik menuju lokasi," kenangnya.
Namun ketika tiba di sekitar kantor, aparat keamanan telah mengepung seluruh kawasan. Bentrokan tidak dapat dihindari, sementara mahasiswa berusaha membuka jalan untuk membantu massa yang bertahan di dalam kantor.
Menurut Adian, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa operasi penyerbuan telah dipersiapkan secara matang, termasuk melalui upaya melemahkan mental para penjaga terlebih dahulu.
"Kalau dipikir sekarang, pola itu memang sangat sistematis. Setelah tenaga dan mental terkuras, barulah penyerbuan benar-benar dilakukan," tuturnya.
Ia menilai pengalaman itu menjadi salah satu pelajaran penting mengenai bagaimana tekanan psikologis digunakan sebagai bagian dari operasi politik pada masa Orde Baru.
#30tahunkudatuli
#Diponegoro58
#PDIPerjuangan
#MegawatiSoekarnoPutri
















































































