Jakarta, Gesuri.id - Dua kader teras DPP PDI Perjuangan, Adian Napitupulu dan Ronny Berty Talapessy, membakar semangat ribuan kader dalam acara Pendidikan Politik dan Konsolidasi Internal PDIP se-Sulawesi Utara di Wale Ne Tou, Kelurahan Wewelen, Minahasa, Jumat (25/9).
Acara tersebut menjadi pembuka dari rangkaian Pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC), Ranting, dan Anak Ranting PDI Perjuangan se-Sulut yang dilantik langsung oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.
Sesi pembekalan berlangsung hangat saat Adian Napitupulu, Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Bidang Komunikasi sekaligus anggota Komisi X DPR RI, langsung membuka ruang dialog interaktif. Moderator sesi, Fabian Kaloh (Wakil Sekretaris Bidang Internal DPD PDIP Sulut), memberikan Kesempatan pertama kepada Ketua DPRD Sulut Fransiscus Andi Silangen untuk melempar pertanyaan.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Dalam paparannya, aktivis '98 itu menyoroti persoalan pemotongan anggaran nasional yang dampaknya tidak hanya dirasakan di Sulut, tetapi juga meluas ke seluruh Indonesia.
Pemotongan anggaran tersebut dinilai berimbas langsung pada target pembangunan daerah dan Janji politik para kepala daerah.
"Janji kepala daerah saat kampanye tidak bisa direalisasikan bukan karena mereka tidak mau atau berbohong, melainkan karena anggaran yang dipotong secara signifikan," ujar legislator dari Dapil Jawa Barat V (Kabupaten Bogor) tersebut.
Adian juga secara tegas meluruskan pandangan publik mengenai posisi politik PDI Perjuangan terhadap program-program pemerintah pusat, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Daerah Merah Putih (KDMP). Ia menegaskan bahwa PDI Perjuangan tidak pernah bersikap anti-pemerintah jika program yang ditawarkan pro-rakyat.
"Apakah PDI Perjuangan menolak program-program Prabowo? Tidak. Kita justru ingin program-program yang baik itu berjalan sesuai dengan nilai kebaikannya," kata Adian.
Namun, ia menekankan bahwa kritik PDI Perjuangan berfokus pada eksekusi, aspek penegakan hukum, dan efisiensi pengelolaan di lapangan:
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
Program Makan Bergizi Gratis (MBG):
Adian menggarisbawahi bahwa persoalan MBG bukan terletak pada niat baiknya, melainkan tata kelola, potensi korupsi, hingga jaminan keselamatan penerima manfaat. Ia menyentil kasus keracunan massal anak-anak yang belum berujung pada penetapan tersangka.
"Masalahnya adalah apakah pengelolaannya sudah benar dan tepat sasaran? Jangan sampai ada korban berjatuhan karena keracunan. Kalau ada 50.000 anak keracunan, harusnya ada banyak tersangka. Di situ kita menguji, apakah hukum berjalan di negara kita?" tegasnya.
Koperasi Daerah Merah Putih (KDMP):
Menurut Adian, gagasan koperasi selaras dengan napas gotong royong yang dijunjung PDI Perjuangan. Kendati demikian, cara pelaksanaan tetap menjadi kunci utama keberhasilan.
"Koperasi adalah kerja gotong royong, tujuannya baik. Namun, apakah tujuan baik jika dikerjakan dengan cara yang tidak benar akan bermuara baik? Belum tentu," tambah anggota DPR RI sejak 2014 tersebut.

















































































