Ikuti Kami

Bung Karno, Pencetus Ide Industri Dirgantara Nasional

Indonesia sebagai negara kepulauan dapat disatukan dengan jalur udara.

Bung Karno, Pencetus Ide Industri Dirgantara Nasional
Ilustrasi. Dirgantara Nasional.

Jakarta, Gesuri.id - Presiden ke-3 Indonesia, BJ Habibie menegaskan pengembangan industri strategis di Indonesia, termasuk industri dirgantara, adalah ide Presiden pertama Indonesia, Bung Karno. 
 
Habibie pun berkisah ketika menimba ilmu di Jerman. Suatu hari dia hendak pulang ke Indonesia, namun Bung Karno memintanya tetap tinggal di sana.

Baca: Bung Karno Sempat Bikin Pusing Uni Soviet

"Tidak ada yg tahu bahwa industri strategis datang dari Bung Karno. Saya usia 28 tahun, saya mau pulang dijawablah saya tinggal di Jerman masuk industri (di sana) tapi dalam waktu yang dibutuhkan harus kembali. Saya tanda tangan (kesepakatan) itu," kata Habibie dalam orasi ilmiah saat peluncuran Habibie Institute for Public Policy and Governance (HIPPG) di Balai Sidang UI, Depok, Selasa (25/6).

Saat itu, Habibie dan Bung Karno memiliki satu pemikiran. Menurut Bung Karno dan Habibie, Indonesia yang dikenal sebagai negara kepulauan dapat disatukan dengan jalur udara. Salah satunya dengan transportasi pesawat.

Pernyataan Habibie itu memang benar. 

Sejak tuntasnya perang kemerdekaan, Bung Karno memang berambisi membangun industri dirgantara nasional. Sang Penggali Pancasila pun sadar, proyek industri dirgantara memerlukan penguasaan teknologi. 

Maka, sejak 1950-an, Indonesia mengirim pemuda-pemudi-nya belajar ke luar negeri, khususnya ke negara-negara Eropa seperti Belanda dan Jerman. BJ Habibie, adalah angkatan ke-V yang dikirim Bung Karno ke Belanda dan Jerman.

Visi dirgantara Bung Karno pun tampak dalam pidato di Hari Penerbangan Nasional 9 April 1962. Berikut cuplikan pidato tersebut.

“…, tanah air kita adalah tanah air kepulauan, tanah air yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang dipisahkan satu dari yang lain oleh samudra-samudra dan lautan-lautan. … tanah air kita ini adalah ditakdirkan oleh Allah SWT terletak antara dua benua dan dua samudra. Maka bangsa yang hidup di atas tanah air yang demikian itu hanyalah bisa menjadi satu bangsa yang kuat jikalau ia jaya bukan saja di lapangan komunikasi darat, tetapi juga di lapangan komunikasi laut dan di dalam abad 20 ini dan seterusnya di lapangan komunikasi udara.”

Tak hanya dipidatokan, visi dirgantara Bung Karno itu pun berupaya untuk diwujudkan. Melalui tangan Nurtanio Pringgoadisurjo, pionir industri dirgantara nasional, pemerintah Bung Karno merintis kerjasama dengan  CEKOP, pabrik pesawat terbang Polandia. 

Kontrak kerjasama itu berjalan setelah pemerintah membentuk Komando Pelaksana Proyek Industri Pesawat Terbang (Kopelapip), yang terdiri dari Lapip dan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari, pada 1965. Kesepakatan dalam kontrak kerjasama itu meliputi pembangunan pabrik, pelatihan karyawan, dan lisensi produksi pesawat PZL-104 Wilga. 

Baca: Sepanjang Hidup, Bung Karno Terima 26 Gelar Doctor HC

Kopelapip pun berhasil memproduksi 44 unit pesawat PZL-104 Wilga,  yang dinamakan Presiden Sukarno sebagai pesawat Gelatik.

Tak hanya dengan CEKOP, Kopelapip juga bekerjasama dengan Fokker, perusahaan pesawat terbang Belanda.

Jadi, Bung Karno memang memiliki visi besar di bidang dirgantara. Visi yang berusaha keras dia wujudkan demi kemajuan negeri yang telah dia merdekakan.

Quote