Ikuti Kami

Langkah PDI Perjuangan Ciracas Menuju Konsolidasi Akar Rumput di Tengah Krisis Kader

Uniknya, riuh diskusi ini hanya terpaut sepelemparan batu dari kediaman politisi PKS, Thamrin.

Langkah PDI Perjuangan Ciracas Menuju Konsolidasi Akar Rumput di Tengah Krisis Kader
Malam, Kamis (23/4), jajaran Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Ciracas memulai rapat gabungan kedua.

Jakarta, Gesuri.id - Di bawah temaram lampu halaman belakang Warkob Piss & Playstation, aroma kopi bercampur dengan kesibukan politik. Malam itu, Kamis (23/4), jarum jam menunjukkan pukul 20.15 WIB, sedikit meleset dari agenda semula, saat jajaran Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Ciracas memulai rapat gabungan kedua mereka. Uniknya, riuh diskusi ini hanya terpaut sepelemparan batu dari kediaman politisi PKS, Thamrin.

Sekretaris PAC, Milchias Jacob, yang akrab disapa Melki, mengambil alih kemudi rapat. Ia mengabarkan ketidakhadiran sang Ketua PAC, Tri Bayu alias Bewok, yang tengah terbaring sakit. Di atas meja, agenda besar telah menanti: persiapan Musyawarah Anak Ranting (Musanran) dan Musyawarah Ranting (Musran) serentak se-Jakarta Timur, sekaligus menindaklanjuti instruksi DPC Nomor 192.

Kehadiran petinggi DPC PDI Perjuangan Jakarta Timur menambah bobot pertemuan malam itu. Tampak hadir Wakil Sekretaris DPC sekaligus Korwil Ciracas Ralian Jawalsen, Bendahara Cabang Junjungan Sinaga, serta Wakil Ketua Bapilu Hizkia Saduk yang menyusul di tengah diskusi.

Namun, suasana santai Warkop seketika berubah serius saat Junjungan Sinaga melontarkan kritik tajam. "Jangan kebanyakan rapat kalau tidak ada hasil," tegasnya seraya mempertanyakan kelengkapan struktur hingga tingkat akar rumput.

Kenyataan pahit di lapangan pun terungkap. Tessy Barbara, mantan Sekretaris Ranting Ciracas yang kini duduk di jajaran PAC, memaparkan penyusutan jumlah kader yang signifikan. Di Kelurahan Ciracas yang memiliki 10 RW dan 142 RT, pengurus yang semula lengkap 30 orang kini hanya menyisakan lima orang yang bertahan. Kondisi serupa terjadi di Susukan dan Kelapa Dua Wetan, di mana pengurus aktif menyusut hingga hitungan jari.

Menanggapi krisis tersebut, Ralian Jawalsen menegaskan bahwa Musran dan Musanran bukan sekadar seremoni administratif, melainkan urat nadi organisasi.

"Disitulah konsolidasi dilakukan, regenerasi kepemimpinan pengurus dimulai," ujar mantan aktivis GMKI tersebut dengan nada mantap.

Ralian memaparkan linimasa krusial bagi partai banteng di Ciracas. Hasil penjaringan calon ketua ditargetkan rampung pada 1 Juni, tepat saat peringatan Hari Lahir Pancasila. SK kepengurusan baru tersebut nantinya akan diserahkan dalam sebuah "Rapat Akbar" yang digelar bertepatan dengan hari lahir sang Proklamator, Bung Karno.

Optimisme baru juga diembuskan oleh Hizkia Saduk. Ia mulai membidik wajah-wajah segar untuk mengisi Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) demi menyongsong Pemilu 2029. "Pengurus Bapilu ke depan akan berada di kisaran usia 25 hingga 35 tahun," pungkasnya, menandai era baru kepemimpinan muda di Ciracas. 

Quote