Bolmong, Gesuri.id - Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Medy Lensun, menyebut rangkaian konsolidasi dan pelantikan struktur PDI Perjuangan se-Sulawesi Utara di Wale Ne Tou, Tondano, sebagai momentum penting untuk mengingatkan kembali seluruh kader tentang jati diri dan tujuan perjuangan partai.
Rangkaian kegiatan diawali sejak kedatangan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Sulawesi Utara.
Medy bersama Ketua DPD PDI Perjuangan Sulawesi Utara Olly Dondokambey, jajaran pengurus DPD dan DPC, kepala daerah serta pimpinan DPRD turut menyambut kedatangan Megawati sebelum rombongan menuju kediaman Olly Dondokambey di Tonsaru.
Pada Jumat (25/9/2026), kader terlebih dahulu mengikuti pembekalan politik yang antara lain disampaikan oleh Wasekjen DPP PDI Perjuangan Adian Napitupulu serta Ketua DPP PDI Perjuangan Ronny Talapessy.
Pemberitaan kegiatan juga mencatat keduanya sebagai narasumber dalam konsolidasi internal tersebut. Puncak kegiatan berlangsung di Wale Ne Tou, Tondano.
Megawati hadir bersama jajaran DPP dan DPD PDI Perjuangan untuk melantik dan mengambil sumpah janji jabatan jajaran PAC, Ranting, Badan dan Sayap PDI Perjuangan se-Sulawesi Utara.
Agenda tersebut dihadiri jajaran partai dari pusat dan daerah, kepala daerah kader PDI Perjuangan serta anggota DPRD.
Menurut Medy, salah satu bagian yang paling berkesan adalah arahan panjang Megawati kepada para kader.
Pesannya tidak hanya berbicara tentang organisasi dan politik, tetapi juga tentang moralitas, disiplin, integritas dan keberpihakan kepada rakyat.
“Saya menangkap pesan Ibu Ketua Umum sangat jelas. Kader PDI Perjuangan harus turun, bertemu dan mendengar rakyat. Kita masuk partai bukan untuk mencari kekayaan atau memperkaya diri. Apalagi mengambil uang negara. Politik harus menjadi jalan pengabdian kepada rakyat,” ujar Medy, dikutip Senin (28/9/2026).
Medy mengatakan gaya penyampaian Megawati yang lantang dan tegas menunjukkan kuatnya penekanan terhadap disiplin kader.
“Di usia 79 tahun, Ibu masih berbicara dengan lantang, penuh energi dan sangat tegas. Bahkan pada bagian-bagian tertentu terasa keras. Tetapi saya melihatnya seperti seorang ibu yang sedang mendidik anak-anaknya. Ketegasan itu adalah cara beliau mengingatkan agar kader tidak kehilangan arah perjuangan.”
Pesan mengenai soliditas, kedisiplinan, integritas dan pengabdian kepada rakyat juga tercatat dalam pemberitaan mengenai konsolidasi tersebut.
Bagi Medy, terdapat tiga pesan besar yang harus dibawa pulang oleh seluruh kader setelah konsolidasi di Tondano: solid dalam organisasi, hadir di tengah rakyat, dan menjaga tangan tetap bersih dari korupsi.
“Setelah pelantikan, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai. Struktur sampai PAC dan ranting jangan hanya ada dalam SK. Mereka harus hidup di tengah masyarakat, mengetahui persoalan rakyat di desa dan kelurahan, kemudian ikut mencari jalan keluarnya,” tegasnya.
Sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Bolaang Mongondow Timur, Medy menyatakan arahan Ketua Umum tersebut akan menjadi bahan konsolidasi bagi jajaran partai di Boltim.
“Pesan Ibu Mega akan kami bawa pulang ke Boltim: solid bergerak, turun ke rakyat, dengarkan rakyat, bantu rakyat, dan jangan sekali-kali mencuri uang negara. Jabatan adalah amanah, bukan kesempatan memperkaya diri,” tandasnya.
Medy menambahkan bahwa kekuatan sebuah partai pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya struktur atau jabatan politik yang dimiliki, melainkan oleh seberapa kuat kadernya menjaga kepercayaan masyarakat.
“Bagi saya, itulah inti pesan Ibu Ketua Umum kemarin. Jangan jauh dari rakyat. Sebab dari rakyatlah PDI Perjuangan lahir, dan kepada rakyat pula seluruh kerja politik harus dipertanggungjawabkan,” tutup Medy Lensun.

















































































