Jakarta, Gesuri.id - Ketua DPC PDI Perjuangan Jakarta Utara, Jhonny Simanjuntak, menegaskan pentingnya internalisasi ajaran Bung Karno dalam kerja-kerja organisasi saat Musyawarah Anak Cabang (Musancab) DPC PDI Perjuangan Jakarta Utara di Kantor DPC PDI Perjuangan Jakarta Utara, Minggu (29/3).
Dalam arahannya, Jhonny menekankan kegiatan partai tidak boleh hanya bersifat seremonial, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya kelompok kecil atau kaum Marhaen.
“Kita tidak cukup hanya dengan kegiatan seremonial. Itu harus kita kurangi. Yang kita dorong adalah kegiatan yang benar-benar bermanfaat, terutama bagaimana kita mengangkat orang-orang kecil melalui advokasi partai,” ujar Jhonny.
Ia menjelaskan, ajaran Bung Karno harus menjadi patron utama dalam gerak politik PDI Perjuangan, terutama dalam menghadirkan keberpihakan terhadap masyarakat kecil. Menurutnya, kondisi Jakarta Utara yang memiliki disparitas antara kelompok kaya dan miskin menuntut kebijakan yang berpihak.
“Kita harus punya keberpihakan yang jelas kepada orang kecil. Maka kader-kader kita di DPR maupun DPRD harus memiliki sense untuk melahirkan kebijakan yang memberi ruang bagi mereka berkembang,” katanya.
Jhonny juga menyoroti pentingnya disiplin organisasi, termasuk dalam pelaksanaan rapat-rapat partai yang terencana dan fokus pada skala prioritas. Ia menegaskan bahwa tingkat kehadiran dan komitmen pengurus menjadi indikator penting dalam menjaga soliditas partai.
“Pengurus yang setengah hati harus dibina. Tapi kalau tidak bisa dibina, harus ada ketegasan untuk diganti. Disiplin partai harus ditegakkan tanpa pandang kedekatan,” tegasnya.
Di sisi lain, ia menambahkan bahwa kader yang menunjukkan kinerja baik juga perlu diberikan apresiasi sebagai bentuk motivasi, meskipun tidak selalu dalam bentuk materi.
“Kalau mereka berhasil, harus ada reward. Tidak harus uang, tapi bentuk penghargaan yang membuat mereka merasa kerja kerasnya dihargai,” lanjutnya.
Dalam konteks penguatan organisasi, Jjonny menekankan pentingnya gotong royong lintas struktur, mulai dari anak ranting, ranting, PAC, hingga DPC, termasuk sinergi dengan kader yang bertugas di legislatif dan eksekutif.
“Kita harus bekerja bersama. Semua sumber daya kita daya gunakan, termasuk anggota DPR dan DPRD, agar gerak partai terkoordinasi dan berdampak,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan era digital, terutama dalam menghadapi hoaks dan dinamika media sosial. Untuk itu, ia mendorong keterlibatan generasi muda (Gen Z) dalam struktur partai, khususnya untuk memperkuat komunikasi digital.
“Minimal di setiap ranting atau anak ranting ada satu kader Gen Z yang fokus memonitor media sosial. Kita juga akan bentuk tim komunikasi untuk menyaring informasi dan menangkal hoaks,” jelasnya.
Menurut Jhonny, pendekatan kepada generasi muda harus adaptif, mengikuti ekosistem mereka tanpa kehilangan arah ideologis partai.
“Kita tidak bisa lagi memaksa mereka mengikuti cara lama. Kita yang harus masuk ke dunia mereka, lalu kita arahkan,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar program partai tidak hanya berorientasi ke internal, melainkan melibatkan masyarakat luas. Ia mengkritik kegiatan yang hanya bersifat simbolik tanpa dampak nyata.
“Jangan hanya ‘politik gincu’, terlihat bagus tapi tidak dirasakan masyarakat. Kita harus ‘politik garam’, tidak terlihat tapi manfaatnya dirasakan,” ungkapnya.
Sebagai contoh, ia mendorong kegiatan sosial yang menyentuh langsung masyarakat, seperti santunan bagi warga kurang mampu, meskipun tetap dalam kerangka partai sebagai organisasi politik.
Menutup arahannya, Jhonny mengajak seluruh kader untuk menjadi contoh dalam kerja-kerja organisasi, termasuk dalam membangun basis massa secara nyata di lapangan.
“Saya beri contoh, saya sendiri mengorganisir ribuan perempuan dan dari situ kita dorong keterlibatan Gen Z. Ini kerja nyata yang harus kita lakukan bersama,” pungkasnya.

















































































