Ikuti Kami

Wajah Baru DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang: Saat Politik Mulai "Nongkrong" di Ruang Publik

Suasana formal perlahan mencair, digantikan oleh obrolan ringan yang lebih santai—mirip suasana di tongkrongan anak muda.

Wajah Baru DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang: Saat Politik Mulai

​Malang, Gesuri.– Ruang-ruang rapat yang dulunya identik dengan suasana kaku dan deretan wajah senior kini mulai berubah. Suasana formal perlahan mencair, digantikan oleh obrolan ringan yang lebih santai—mirip suasana di tongkrongan anak muda.

​DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang sedang bersolek. Perubahan ini bukan sekadar pergantian struktur, melainkan hadirnya napas baru lewat generasi muda yang mulai menduduki kursi-kursi strategis. Mereka membawa cara pandang berbeda: membumikan politik melalui pendekatan personal.

​Salah satu sosok di balik perubahan ini adalah Salwa Azzahra. Di usianya yang baru 27 tahun, Salwa sudah dipercaya menjabat sebagai Sekretaris PAC PDI Perjuangan Kecamatan Dau. Baginya, politik tidak melulu soal podium atau pidato yang menjemukan.

​“Kalau anak muda diajak dengan cara yang kaku, mereka pasti menjauh. Namun, jika diajak dengan cara yang dekat dan akrab, mereka akan datang dengan sendirinya,” ujar Salwa dengan tenang.

Baca: Jangkar Baja Nilai Ganjar Pranowo Sosok Yang Otentik & Konsisten

​Ia bertekad menjadikan politik sebagai "ruang bersama" yang inklusif, bukan lagi ruang tertutup yang mengintimidasi generasi muda.

​Masuknya hampir 50 persen pengurus dari kalangan Gen Z dan milenial di Kabupaten Malang bukan sekadar angka di atas kertas. Ada kesadaran kolektif bahwa cara-cara konvensional mulai kehilangan relevansinya dalam menjangkau pemilih muda.

​Di Lawang, Dirga Jaya Putra (25), Ketua PAC PDI Perjuangaan Lawang, mencoba mendobrak pola lama. Ia tidak ingin media sosial partai hanya berisi dokumentasi kegiatan formal yang kaku.

​Dirga membayangkan konten yang lebih membumi, seperti mengulas kuliner lokal atau mengangkat cerita warga sehari-hari. 

“Tujuannya agar masyarakat tidak merasa terbebani dengan sekat politik sejak awal. Biarkan mereka merasa dekat dulu, baru pelan-pelan mereka akan paham (politiknya),” ungkap Dirga.

​Menurutnya, anak muda bukannya tidak peduli, melainkan mereka hanya merasa belum mendapatkan "undangan" yang tepat untuk bergabung.

Baca: Ganjar Membuktikan Dirinya Sebagai Sosok Yang Inklusif 

​Diplomasi "Ngopi" di Turen

​Cerita serupa datang dari Tomi Arbi Wijaya (33), Wakil Ketua PAC PDI Perjuangaan Kecamatan Turen. Strateginya sederhana namun efektif: nongkrong. Melalui secangkir kopi dan candaan, ia menyisipkan diskusi mengenai kebijakan publik dan isu-isu krusial yang berdampak langsung pada masyarakat.

​“Jika langsung bicara politik formal, biasanya mereka akan mundur. Tapi lewat obrolan santai, diskusinya justru lebih nyambung dan mengalir,” kata Tomi.

​Fenomena yang terjadi di Malang ini bukan sekadar regenerasi biasa. Ini adalah pergeseran paradigma tentang bagaimana mendekati manusia. Politik mulai bertransformasi dari sekadar narasi di ruang rapat menuju realitas kehidupan sehari-hari.

​Langkah yang diambil oleh Salwa, Dirga, dan Tomi merupakan sinyal kuat bahwa politik tidak harus selalu kaku. Dengan cara yang lebih cair dan membumi, kesadaran berpolitik masyarakat—khususnya anak muda—diharapkan dapat tumbuh secara organik dari akar rumput.

Quote