Ikuti Kami

Adi Wiryatama: Pancasila Harus Hadir Dalam Sikap, Cara Bermasyarakat dan Menghargai Perbedaan

Empat Pilar ini harus dipahami, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilainya kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Adi Wiryatama: Pancasila Harus Hadir Dalam Sikap, Cara Bermasyarakat dan Menghargai Perbedaan
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Nyoman Adi Wiryatama, saat menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama pemuda dan pemudi Banjar Punjuan, Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Nyoman Adi Wiryatama, mengajak generasi muda untuk terus merawat sekaligus memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. 

Pesan tersebut disampaikan saat menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama pemuda dan pemudi Banjar Punjuan, Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan.

“Empat Pilar ini harus dipahami, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilainya kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila harus hadir dalam sikap, dalam cara kita bermasyarakat dan dalam bagaimana kita menghargai perbedaan,” ujar Adi Wiryatama, dikutip Rabu (30/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.00 Wita tersebut menjadi momentum bagi Adi Wiryatama untuk berdialog langsung dengan kalangan generasi muda mengenai pentingnya menjaga persatuan, toleransi dan semangat gotong royong di tengah berbagai perubahan sosial.

Dalam sosialisasi tersebut, Adi Wiryatama menekankan bahwa Empat Pilar Kebangsaan bukan sekadar materi yang harus diketahui, tetapi merupakan nilai dasar yang perlu diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Empat Pilar Kebangsaan meliputi Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan yang merekatkan keberagaman bangsa Indonesia.

Menurutnya, generasi muda memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan arah kehidupan bangsa ke depan. Pemuda tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga menjadi kelompok masyarakat yang saat ini paling dekat dengan perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi.

Perkembangan media sosial, menurut Adi Wiryatama, memberikan manfaat besar karena membuka akses informasi dan memperluas ruang komunikasi. Namun, kemudahan tersebut juga harus diimbangi dengan kemampuan untuk memilah informasi secara bijak.

Generasi muda diharapkan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya, apalagi ikut menyebarkan informasi yang berpotensi menimbulkan konflik di tengah masyarakat.

“Jangan sampai kemajuan teknologi justru membuat kita mudah terpecah. Informasi harus disaring, jangan langsung dipercaya dan disebarkan. Anak-anak muda harus menjadi pengguna teknologi yang cerdas dan bertanggung jawab,” katanya.

Adi Wiryatama juga mengingatkan bahwa perbedaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia. Perbedaan suku, agama, adat, budaya, pandangan dan pilihan merupakan kenyataan yang harus diterima sebagai kekayaan bangsa.

Karena itu, semangat Bhinneka Tunggal Ika harus terus ditanamkan sejak lingkungan terkecil, termasuk keluarga, banjar dan desa.

Menurutnya, masyarakat Bali memiliki modal sosial yang kuat untuk menjaga nilai-nilai tersebut. Tradisi menyama braya, gotong royong dan kehidupan sosial di tingkat banjar merupakan contoh nyata bagaimana masyarakat dapat hidup berdampingan dengan mengedepankan kebersamaan.

“Di Bali kita punya budaya menyama braya dan gotong royong. Ini harus terus dijaga. Jangan sampai perkembangan zaman membuat hubungan sosial kita semakin renggang,” ujar Adi Wiryatama.

Ia menilai keberadaan organisasi dan komunitas pemuda di tingkat banjar juga memiliki peran penting. Pemuda tidak hanya diharapkan aktif dalam kegiatan sosial dan adat, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan masyarakat, lanjutnya, menjadi salah satu cara untuk membangun rasa memiliki terhadap lingkungan sekaligus memperkuat karakter kebangsaan.

Dalam kesempatan tersebut, Adi Wiryatama juga mendorong pemuda dan pemudi Banjar Punjuan untuk tidak berhenti pada pemahaman secara teoritis. Nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar harus diterjemahkan dalam tindakan nyata.

Mulai dari menghormati orang lain, menjaga kerukunan, menaati aturan, menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, membantu sesama hingga menjaga lingkungan sekitar merupakan bagian dari praktik nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga ruang dialog di tengah masyarakat. Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Yang terpenting adalah bagaimana perbedaan tersebut disikapi secara dewasa tanpa menghilangkan rasa persaudaraan.

“Berbeda pendapat itu biasa. Yang jangan sampai terjadi adalah karena berbeda pendapat kemudian kita bermusuhan. Kita tetap bersaudara, tetap satu masyarakat dan satu bangsa,” tegasnya.

Sosialisasi Empat Pilar di Banjar Punjuan berlangsung dalam suasana dialogis. Para pemuda dan pemudi yang hadir mendapat ruang untuk berdiskusi serta menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda saat ini.

Adi Wiryatama berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, pembangunan bangsa tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan akademik dan keterampilan, tetapi juga memiliki karakter serta rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Generasi muda juga diharapkan mampu menjadi contoh dalam membangun komunikasi yang sehat, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

“Kalau generasi mudanya kuat, memahami nilai kebangsaan dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan, maka kehidupan masyarakat juga akan semakin kuat. Karena itu, anak-anak muda harus terus diberikan ruang untuk belajar, berdiskusi dan berkontribusi,” katanya.

Adi Wiryatama menambahkan, penguatan Empat Pilar Kebangsaan harus dilakukan secara berkelanjutan. Bukan hanya melalui kegiatan sosialisasi, tetapi juga melalui praktik kehidupan sehari-hari.

Ia mengajak pemuda dan pemudi Banjar Punjuan menjadikan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Dengan pemahaman tersebut, generasi muda diharapkan mampu tetap terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri, budaya dan nilai-nilai kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat.

“Jaga persatuan, jaga kebersamaan dan jangan pernah kehilangan jati diri. Kemajuan boleh kita kejar, tetapi nilai-nilai kebangsaan dan budaya harus tetap kita pegang,” pungkas Adi Wiryatama.

Quote