Ikuti Kami

Ansari Ajak Santri Al-Amien Jadi Manusia yang Bermanfaat

Menurut Ansari, pengalaman hidup tersebut mengajarkannya bahwa setiap fase kehidupan memiliki nilai dan makna tersendiri.

Ansari Ajak Santri Al-Amien Jadi Manusia yang Bermanfaat
Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil Madura, Hj Ansari.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil Madura, Hj Ansari mengungkapkan ramadan menjadi momentum penting untuk melatih diri menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi sesama.

Di hadapan para santri yang berasal dari berbagai daerah, istri dari Ketua DPC PDI Perjuangan Pamekasan, Taufadi itu juga mengingatkan bahwa nilai kebermanfaatan seseorang tidak ditentukan oleh jabatan yang dimiliki, melainkan dari kontribusinya terhadap orang lain.

“Menjadi bermanfaat itu tidak harus menjadi anggota DPR. Menjadi dokter bermanfaat bagi pasien, menjadi dosen mencerdaskan generasi, petani menyediakan makanan, dan nelayan juga berjuang untuk kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak

Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien itu juga berbagi perjalanan hidupnya. Ia pernah menempuh pendidikan di Putri 1 Al-Amien sebelum melanjutkan kuliah di STAIN Pamekasan yang kini telah bertransformasi menjadi UIN Madura. Setelah lulus, ia sempat menjadi guru taman kanak-kanak sebelum akhirnya menjadi ibu rumah tangga selama beberapa tahun.

Menurut Ansari, pengalaman hidup tersebut mengajarkannya bahwa setiap fase kehidupan memiliki nilai dan makna tersendiri. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana seseorang tetap berusaha memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Dalam tausiyahnya, ia juga mengajak para santri memanfaatkan bulan Ramadan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Ia menjelaskan tentang keutamaan malam Lailatul Qadar sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Ansari mengisahkan bahwa keutamaan tersebut merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW yang memiliki usia relatif lebih pendek dibanding umat terdahulu.

“Ketika kita beribadah di malam Lailatul Qadar, pahalanya lebih baik dari seribu bulan. Ini adalah karunia besar agar umat Nabi Muhammad tetap memiliki kesempatan memperoleh pahala yang luar biasa,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa puasa memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan pertama adalah puasa umum, yaitu menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Tingkatan berikutnya adalah puasa khusus yang disertai kemampuan menjaga pandangan, pendengaran, dan ucapan.

Sementara tingkatan tertinggi adalah puasa yang mampu menjaga hati dari prasangka buruk dan penyakit hati lainnya.

“Yang paling sulit itu menjaga hati. Karena hanya kita dan Allah yang tahu apa yang ada di dalam hati kita,” ujar Ansari.

Untuk membantu menjaga kualitas ibadah, ia mengingatkan enam hal yang perlu dikendalikan. Pertama, tidak berlebihan dalam makan. Kedua, tidak berlebihan dalam tidur. Ketiga, menjaga pandangan. Keempat, menjaga ucapan. Kelima, menjaga pendengaran dari hal-hal yang tidak baik. Dan keenam, tidak berlebihan dalam pergaulan.

Ia mencontohkan kebiasaan berlebihan yang sering terjadi, seperti terlalu banyak membeli makanan saat berbuka, tidur terlalu lama karena puasa, atau terlalu lama menggunakan gawai hingga melalaikan ibadah.

“Silaturahmi itu baik, tetapi jangan sampai berlebihan sehingga menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat,” ujarnya.

Ansari juga mendorong para santri untuk memperkuat hubungan dengan Allah melalui ibadah pribadi seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa dengan penuh kekhusyukan.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

Menurutnya, doa yang dipanjatkan dengan kesungguhan hati akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah.

“Kalau kita meminta kepada Allah dengan sungguh-sungguh, insyaallah Allah akan memudahkan dan mempercepat terkabulnya doa kita,” katanya.

Di akhir penyampaiannya, Ansari mengingatkan bahwa setiap manusia akan menghadapi berbagai takdir dalam hidup. Karena itu, ia mengajak para santri untuk belajar menerima setiap ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan.

“Takdir Allah terkadang terasa pahit, tetapi di dalamnya selalu ada hikmah. Yang penting kita mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dalam hidup,” tuturnya.

Quote