Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua Bidang Internal DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Ida Widaningsih, menyampaikan bahwa dapur umum telah aktif selama 13 hari sejak longsor pertama terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB)
Posko didirikan pada Sabtu sore, tak lama setelah peristiwa bencana, dan mulai melayani relawan sejak malam harinya.
“Sejak hari pertama kami langsung membuka dapur umum. Selama 13 hari ini, posko terus beroperasi untuk memastikan seluruh relawan mendapatkan kebutuhan konsumsi,” ujar Ida, Kamis (5/2).
Baca: Ganjar Tekankan Kepemimpinan Strategis
Pada sepekan awal masa tanggap darurat, dapur umum PDI Perjuangaan Jabar menyiapkan hingga 1.600 porsi makanan setiap hari.
Sajian yang disediakan meliputi nasi, mie instan, kopi, roti, camilan, serta berbagai kebutuhan konsumsi lainnya.
Menurut Ida, bantuan tersebut dinikmati oleh relawan dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Basarnas, PMI, hingga relawan kemanusiaan lainnya.
“Semua kami layani tanpa terkecuali,” katanya.
Seiring dengan mulai ditariknya sebagian besar tim evakuasi serta akan berakhirnya status tanggap darurat pencarian korban, operasional dapur umum direncanakan segera ditutup. Namun sebelum penutupan, PDI Perjuangan Jabar terlebih dahulu menyalurkan bantuan tambahan berupa 2,5 ton beras kepada warga terdampak longsor.
Bantuan beras ini kami salurkan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat sebelum posko ditutup,” ungkapnya.
Dalam mendukung operasional di lapangan, PDI Perjuangan Jabar menerjunkan sekitar 30 personel Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) yang bertugas di berbagai sektor, mulai dari tim kesehatan, dapur umum, logistik, pelayanan, hingga evakuasi.
Satu unit ambulans juga disiagakan penuh selama proses pencarian korban.
Baca: Ganjar Sebut Kehadiran Megawati Bertemu Presiden Prabowo
“Ambulans kami siaga penuh dan telah membantu mengangkut sekitar 20 kantong jenazah korban longsor yang berhasil ditemukan tim SAR gabungan,” jelasnya.
Ida mendorong pemerintah pusat, provinsi, dan daerah untuk mengambil langkah lanjutan yang lebih komprehensif. Bahkan, Ia menilai bencana longsor Pasirlangu memiliki dampak luas dan memerlukan penanganan berskala nasional.
Ia menekankan pentingnya relokasi warga, pemulihan psikologis (trauma healing) terutama bagi anak-anak, serta jaminan ekonomi sementara bagi masyarakat yang kehilangan mata pencaharian.

















































































