Ikuti Kami

Malam Jumat Kliwon & Kejawen Sebagai Jatidiri Orang Jawa

Malam Jumat Kliwon banyak disalahtafsirkan sebagai suatu waktu yang mengerikan.

Malam Jumat Kliwon & Kejawen Sebagai Jatidiri Orang Jawa
Ilustrasi. Malam Jumat Kliwon.

Jakarta, Gesuri.id- Aktivis Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), organisasi sayap PDI Perjuangan, Ronas Pardianto meluruskan kesalahpahaman sebagian masyarakat tentang malam Jumat Kliwon. 

Menurut Ronas, malam Jumat Kliwon banyak disalahtafsirkan sebagai suatu waktu yang mengerikan. Padahal malam Jumat Kliwon merupakan bagian dari tradisi Kejawen.

Baca: Budiman: Pembakaran Keris Rusak Identitas Bangsa!

"Dan Kejawen merupakan keyakinan tiap manusia Jawa apapun agamanya, yang dipegang teguh turun menurun khususnya oleh Kasta Ksatria," ungkap Ronas.

Dalam tradisi Kejawen, lanjut Ronas, kita membuka diri antar alam dengan seluruh dimensinya melalui semedi atau meditasi. Kita pun menyimak segala pesan para leluhur dan membaca alam dengan seksama. 

"Terkadang memang iya ada yang 'numpang lewat', kalau sekedar bentuk aneh sebenarnya tidak mengkhawatirkan. Karena yang menyeramkan dan musti kuat adalah bila berbentuk cantik duniawi, 'Eling eling lan waspada...'," ujar Ronas. 

Kejawen, sambung Ronas, adalah keyakinan di dalam tradisi dan budaya masyarakat Jawa. Kejawen juga merupakan 'jatidiri'. Dan oleh karenanya siapapun yang memegangnya serta apapun agamanya, tidak menghilangkan Kejawaan kita. 

Baca: Hasto: Kita Harus Bangga Dengan Budaya Sendiri

"Perbedaan agama bagi kami, apakah Budha, Hindu, Kristen, Muslim, dan sebagainya merupakan kekayaan bangsa Jawa, karena di dalam Kejawen memiliki mekanisme dialektika kebudayaan yang selalu menghasilkan peradaban secara terus menerus berkesinambungan," ujar Ronas. 

Ronas melanjutkan, seseorang akan terlahir sebagai "wong Jowo"  sampai akhir hayatnya tidak bisa mendadak misalnya menjadi orang India atau Belanda. Tetapi siapapun dapat berganti agama, sejauh selaras dengan keyakinan Kejawen, "Sang Hyang Tunggal" ( Esa ) dan "Manunggaling Kawula Gusti" ( Menyatu Dengan-Nya ).

"Yakin keyakinanmu itu ke  Sang Hyang Wenang atau Sang Donya? Buktikan tidak dengan keindahan tutur katamu tetapi juga sikap perbuatanmu," pungkas Ronas.

Quote