Jakarta,, Gesuri.id - PDI Perjuangan, bergerak cepat menerjunkan bantuan penanganan bencana serta layanan kesehatan bagi para korban gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan, Ribka Tjiptaning, menegaskan bahwa langkah tanggap darurat tersebut dilakukan atas instruksi langsung Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.
"Ibu Ketum selalu memantau jika ada bencana dan langsung memberikan perintah. Kami di internal memang sudah otomatis bergerak cepat begitu terjadi bencana," ujar Ribka Tjiptaning.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo

Ribka menjelaskan, sektor penanganan bencana dan pelayanan kesehatan selalu berjalan berdampingan. Dalam aksi kemanusiaan di NTT ini, ia bekerja sama dengan Ketua DPP PDIP Bidang Kebencanaan, Tri Rismaharini.
Menurut Ribka, kondisi pengungsian yang padat dan komunal berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan secara masif, mulai dari kekurangan air bersih, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, penyakit kulit, hingga penanganan korban luka-luka akibat tertimpa reruntuhan.
Tim di lapangan menemukan banyak bayi yang baru lahir di puskesmas darurat serta warga penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian ekstra.
"Poin utamanya adalah menangis dan tertawa bersama rakyat, sesuai arahan Ibu Mega. Sembako hanya bagian dari bantuan fisik, tetapi keberadaan tenaga medis yang menetap dan mendampingi warga di lokasi pengungsian adalah hal esensial," tegas Ribka.
Untuk memperkuat penanganan medis, PDI Perjuangan mengerahkan Kapal Rumah Sakit Laksamana Malahayati menuju wilayah NTT. Kapal tersebut dijadwalkan bertolak dari Cilegon, Banten, untuk memperkuat tim medis yang sudah bergerak di lapangan.
"Kemarin kami sudah mengerahkan delapan tenaga medis. Gelombang berikutnya, para dokter dan perawat akan menyusul menggunakan pesawat agar bisa langsung menangani warga, sementara kapal logistik dan medis bergerak menuju pelabuhan tujuan yang dikoordinasikan oleh DPD dan DPC setempat," jelasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan di lokasi pengungsian, Ribka menyoroti beberapa catatan penting yang membutuhkan penanganan lebih spesifik, salah satunya adalah pemisahan tenda pengungsian.

Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
Saat ini, lokasi pengungsian masih menggabungkan kelompok bayi, anak-anak, orang tua, hingga lansia dalam satu area tanpa penyekatan yang memadai.
Selain itu, Ribka menaruh perhatian khusus pada kelompok Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang kerap terabaikan saat situasi darurat bencana.
"ODGJ juga merupakan warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan penanganan secara layak. Kami tengah berkoordinasi dan berjejaring dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berfokus pada spesialisasi penanganan ODGJ agar mereka tetap mendapatkan pendampingan medis selama masa darurat ini," pungkasnya.

















































































