Ikuti Kami

Peserta Napak Tilas KAA Nyekar ke Makam Bung Karno

Para peserta napak tilas KAA yang terdiri dari para akademisi dari 33 negara, mengunjungi makam Bung Karno di Kota Blitar, Jawa Timur.

Peserta Napak Tilas KAA Nyekar ke Makam Bung Karno
Para peserta napak tilas KAA yang terdiri dari para akademisi dari 33 negara, mengunjungi makam Bung Karno di Kota Blitar, Jawa Timur pada Kamis (10/11), bertepatan dengan Hari Pahlawan. (istimewa)

Blitar, Gesuri.id - Peserta napak tilas Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 berziarah ke makam Proklamator RI yang juga penggagas semangat persatuan bangsa Asia-Afrika membangun perdamaian dunia, Dr.Ir. Soekarno, demi membakar semangat membangun dunia baru tanpa kolonialisme.

Baca: Sekjen Hasto: RI Ajak Dunia Bangkitkan Api Semangat KAA-GNB

Para peserta napak tilas KAA yang terdiri dari para akademisi dari 33 negara, mengunjungi makam Bung Karno di Kota Blitar, Jawa Timur pada Kamis (10/11), bertepatan dengan Hari Pahlawan. Sebelumnya, mereka sudah mengikuti rangkaian acara dari Jakarta dan Bandung.

“Sebuah kehormatan besar bagi kami orang Indonesia menerima anda semua di Kota Blitar, yang menjadi kota peziarahan karena adanya makam Bung Karno sebagai proklamator Indonesia,” kata Darwis Khudori, seorang doktor asal Indonesia yang tinggal di Prancis, yang menggagas sekaligus jadi peserta acara itu.

Sebelum nyekar di makam sang proklamator, para akademisi ikut menghadiri upacara hari pahlawan di halaman kompleks makam Bung Karno. Upacara dipimpin langsung oleh Sekjen PDI Perjuangan Dr. Hasto Kristiyanto. Para kader PDI Perjuangan dari Jawa Timur mengikuti kegiatan itu. Tampak Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim Sri Untari serta mantan Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana.

Kepada para peserta, Hasto mengatakan ziarah di makam Bung Karno demi mendoakan agar Bung Karno mendapat tempat terbaik di Surga. Tak hanya itu, ziarah juga bermaksid agar kita belajar dari perjuangannya dan mewarisi semangatnya.

“Kami berharap semangat membangun tatanan dunia baru tanpa kolonialisme, dan semangat membangun solidaritas antar sesama, terus dikuatkan,” kata Hasto.

“Di sinilah kita bergandengan tangan dalam mewujudkan kesetaraan internasional; serta kerja sama politik yang saling menghargai setiap negara, dan semangat kerja sama ekonomi dan budaya dalam rangka membangun tatanan dunia yang lebih adil, damai, dan sejahtera,” tambah Hasto.

Ditegaskan Hasto, bahwa bagi Indonesia dan PDI Perjuangan pada khususnya, perjuangan panjang mewujudkan cita-cita itu takkan pernah sia-sia.

“Seperti yang diyakini Bung Karno, bahwa ketika kita memperjuangkan kepentingan umat manusia, seluruh perjuangan tidak akan pernah sia-sia. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia,” tegas Hasto.

Usai upacara, Hasto mengajak para akademisi itu untuk duduk bersila dan mendoakan Bung Karno. Para peserta nampak khidmat menunduk mendoakan Bung Karno. Mereka ikut memanjatkan doa untuk Putra Sang Fajar. Tak lupa semua peserta juga menabur bunga mawar di makam.

Acara pembukaan Bandung-Belgrade-Havana in Global History and Perspective dilakukan di Jakarta pada Senin lalu. Setelahnya, peserta berangkat di Bandung, bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran (Unpad), membahas langkah-langkah berbasis semangat Konferensi Asia Afrika 1955.

Baca: Puan Ajak Parlemen Korea Kolaborasi Kepemimpinan di Asia

Para peneliti yang diajak dalam program ini antara lain ialah Annamaria Artner (Hungaria), Connie Rahakundini Bakrie (Indonesia), Isaac Bazie (Burkina Faso/Canada), Beatriz Bissio (Brasil/Uruguay), Marzia Casolari (Italia), Gracjan Cimek (Poland), Bruno Drweski (Prancis/Polandia), Hilman Farid (Indonesia), Darwis Khudori (Indonesia/Prancis), Seema Mehra Parihar (India), Jean-Jacques Ngor Sene (Senegal/USA), Istvan Tarrosy (Hungaria), Rityusha Mani Tiwary (India), Nisar Ul Haq (India).

Quote