Jakarta, Gesuri.id - Salah satu kebijakan yang menarik dari program nawacita milik Jokowi adalah anggaran desa. Menurut politisi PDI Perjuangan, Maruarar Sirait butuh keberanian besar bagi seorang pemimpin untuk mewujudkannya, pasalnya diperlukan dana yang tidak sedikit untuk itu.
"Tidak ada presiden sepanjang republik ini berdiri yang berani menggelontorkan dana sebesar kurang lebih 60 triliun kepada desa-desa di Indonesia. Itu butuh keberanian karena tantangannya banyak," ucap Ara, sapaan akrab Maurarar saat menghadiri acara diskusi bertajuk "Evaluasi 3,5 Tahun Jokowi-JK: Quo Vadis Nawa Cita" yang diadan oleh lembaga survei Indo Barometer di Hotel Atlet Century Parak, Senayan, Jakarta, Selasa (22/5).
Baca: Survei Indo Barometer: Mayoritas Publik Puas Kinerja Jokowi
Ara mengatakan, salah satu tantangan yang harus dihadapi adalah kesiapan dari kepala desa yang terkadang belum siap. Namun berdasarkan hasil survei Indo Barometer sebanyak 75,2 persen masyarakat merasa sangat puas dengan hasil dari pemerataan daerah tersebut.
"Nah keberanian Jokowi yang membuat keputusan untuk membuat pemerataan dari pinggiran desa jelas sudah teruji dari hasil di sini yang cukup tinggi," tegas Ara yang juga Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.
Meskipun demikian, Ara tidak menutupi bahwa ada pula kebijakan dari prorgam Nawacita yang belum mencapai hasil maksimal seperti pemerintahan yang bersih dan efektif. Bagi salah satu anggota DPR RI ini, masalah tersebut merupakan salah satu tantangan penting bagi Jokowi dan pemerintah untuk dijawab.
Selain itu Ara juga menyinggung tentang rendahnya pemahaman orang mengenai program Nawacita milik Jokowi. Menurutnya hal ini disebabkan karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai Nawacita, padahal hal ini penting untuk diketahui.
Baca: Gus Ipul-Mbak Puti Aplikasikan Nawacita Jokowi
"Saya pikir akan ada diskusi yang panjang di lingkaran pendukung utama Jokowi dan timses bagaimana mengantisipasi, menjawab pertanyaan "serangan" yang berbeda pandangan politik sama kita mengenai Nawacita dan janji politik itu tadi," imbuh Ara.
Lebih lanjut Ara mengatakan, belum terwujudnya salah satu kebijakan dari program Nawacita itu sudah sudah menjadi pembahasaan baik di dalam lingkaran pendukung utama maupun timses Jokowi untuk mengantisipasi dan menjawab serangan-serangan dari lawan politiknya mengenai Nawacita dan janji politik pemerintahaan Jokowi.
"Kalau saya pribadi melihatnya orang indonesia lebih suka orang yang fair dan sportif. Ya kalau memang belum berhasil ya akui aja, jangan puter-puter cari alasan. Karena memang saya pikir nggak ada pemimpin yang sempurna, tetapi keberanian mengakui kekurangan menurut saya adalah suatu hal yang pantas dihargai rakyat Indonesia," tandasnya.

















































































