Ikuti Kami

Anak Muda Didorong Tanggap Bencana, Manfaatkan Medsos Hingga Turun Lapangan

Kecepatan informasi merupakan salah satu kunci utama dalam meminimalisasi risiko bencana.

Anak Muda Didorong Tanggap Bencana, Manfaatkan Medsos Hingga Turun Lapangan
Rita Haryati, saat menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana di Desa Blaran, Kecamatan Barat, Magetan, Kamis (15/10/2026) - Foto: Web DPD PDI Perjuangan Jatim

Magetan, Gesuri.id - Generasi Z (Gen Z) dan kaum muda memiliki posisi strategis untuk menjadi motor penggerak sekaligus katalisator dalam ekosistem penanggulangan bencana. 

Kedekatan generasi muda dengan teknologi digital dinilai menjadi modal besar dalam membangun budaya sadar bencana yang cepat dan anti-panik.

Pesan tersebut ditegaskan oleh Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Magetan dari Fraksi PDI Perjuangan, Rita Haryati, saat menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana di Desa Blaran, Kecamatan Barat, Magetan, Kamis (15/10/2026).

Kegiatan sosialisasi ini didominasi oleh audiens muda, mulai dari remaja desa setempat hingga jajaran siswa kelas XI SMAN 1 Barat.

Rita menyampaikan, kecepatan informasi merupakan salah satu kunci utama dalam meminimalisasi risiko bencana. 

Gen Z yang akrab dengan media sosial seperti TikTok, Instagram, hingga X (dahulu Twitter) diharapkan mampu mengambil peran sebagai penyebar edukasi mitigasi dan peringatan dini secara bijak.

”Generasi muda bisa memanfaatkan kedekatan mereka dengan teknologi dan media sosial untuk menyebarkan informasi kebencanaan secara cepat dan terarah,” ujar Rita di hadapan para siswa dan pemuda Karang Taruna, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, informasi yang teredukasi melalui platform digital dapat membentuk respons masyarakat yang lebih siap siaga dan tidak mudah panik saat situasi darurat terjadi.

Tidak hanya aktif di dunia maya, Rita mendorong anak muda Magetan untuk mengambil aksi nyata di lapangan. Hal itu mencakup keterlibatan aktif dalam komunitas kepemudaan, pelatihan mitigasi bencana hidrometeorologi maupun geologi, hingga simulasi pertolongan pertama pada korban.

Sebagai langkah awal pra-bencana, generasi muda diajak untuk mulai membudayakan kesiapsiagaan mandiri di lingkungan keluarga masing-masing, salah satunya dengan menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB).

”Pemahaman dan langkah antisipasi harus dimulai sejak dini. Hal sederhana seperti menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, dan pakaian darurat sangat vital saat kondisi kritis,” jelasnya.

Rita menekankan, dalam menghadapi peristiwa bencana alam, aspek utama yang wajib diprioritaskan adalah keselamatan jiwa warga di atas harta benda.

Selain penanggulangan bencana, sosialisasi tersebut juga mengulas Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) Kabupaten Magetan.

Rita memaparkan bahwa sektor pariwisata yang menjadi motor penggerak ekonomi daerah harus berjalan selaras dengan prinsip keselamatan.

Menurut Ketua Komisi B DPRD Magetan ini, kawasan-kawasan wisata di Magetan wajib mengedepankan sistem keselamatan dan mitigasi bencana terpadu demi perlindungan wisatawan maupun kelestarian budaya lokal.

Melalui sosialisasi ini, diharapkan para pelajar dan pemuda Desa Blaran tidak hanya menjadi penonton, melainkan menjadi agen perubahan yang responsif dan tanggap terhadap potensi bencana di daerahnya.

Quote