Jakarta, Gesuri.id - Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta, Susanto Dwi Antoro mengungkapkan penanganan stunting tidak bisa diselesaikan dengan cara instan atau sekadar kerja cepat dalam waktu singkat.
Diperlukan konsistensi dan kolaborasi jangka panjang dari seluruh elemen masyarakat layaknya sebuah lari maraton.
Antoro menekankan bahwa analogi maraton dipilih karena stunting berkaitan erat dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa di masa depan. Dampaknya sangat masif jika tidak ditangani secara berkelanjutan dari hulu ke hilir.
Baca: Ganjar Pranowo Harap Masalah Gas Melon Cepat Tuntas
"Stunting tidak hanya bisa ditangani dengan sprint (lari cepat jarak pendek), tapi perlu maraton. Kita butuh napas panjang dan kerja sama semua pihak karena ini menyangkut masa depan generasi kita," ujar Antoro
Meski angka stunting di Kota Yogyakarta saat ini sudah berada di bawah rata-rata nasional, Antoro mengingatkan agar semua pihak tidak lengah. Keberadaan kasus yang masih ditemukan menunjukkan bahwa edukasi dan intervensi gizi harus terus digalakkan.
Oleh karena itu, persoalan tumbuh kembang anak ini pun bukan hanya tanggung jawab satu OPD seperti Dinas Kesehatan saja, melainkan seluruh elemen. Pihaknya di Komisi A pun punya tanggung jawab dalam mengawal program kewilayahan agar turut memberikan dukungan terhadap kasus tersebut.
Hal ini karena sesuai konsep maraton, stunting tidak bisa ditangani satu sisi saja tetapi dari semua lini. Termasuk urusan sosial, kemasyarakatan dan kewilayahan.
Baca: Ganjar Tekankan Kepemimpinan Strategis yang Berani
"Stunting ini kan bagai api kecil yang akan membakar masa depan. Pak Walikota memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan anak-anak agar menjadi SDM unggul. Sehingga kita semua ikut bertanggung jawab untuk penanganan stunting, tanpa terkecuali," tandas politikus PDI Perjuangan ini.
Antoro juga menilai, Kota Yogyakarta sudah memiliki modal sangat kuat. Terutama dari unsur kebijakan yang terintegrasi, dukungan akademisi dan partisipasi masyarakat. Akan tetapi tantangan struktural masih menghinggapi. "
Ibarat kota ini sudah memiliki mesin yang sangat baik. Tinggal memastikan bahan bakarnya cukup dan jalannya lurus. Jadi keberhasilan percrpatan stunting bukan dari satu program yang heroik tetapi orkrestasi kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan. Ini yang saya maksud maraton," urainya.

















































































