Ikuti Kami

Bonnie Triyana Soroti Kondisi Perpustakaan Digital dan Fisik di Indonesia 

Pendiri Historia.id ini mengingatkan agar efisiensi anggaran tidak mengorbankan layanan publik dasar.

Bonnie Triyana Soroti Kondisi Perpustakaan Digital dan Fisik di Indonesia 
Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana menyoroti persoalan layanan digital hingga kondisi fisik perpustakaan di Indonesia, termasuk milik tokoh pendiri bangsa.

"Kalau lagi sedang malas pergi, saya biasanya akses Ipusnas. Tetapi belakangan ini Ipusnas sering macet," kata Bonnie Triyana dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Kepala Perpustakaan Nasional di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (14/1).

Anggota Fraksi PDI Perjuangan itu menceritakan pengalamannya mengunduh buku yang terhenti karena sistem terkunci, serta menemui gangguan akses yang berlanjut meski masa pemeliharaan seharusnya selesai.

Baca: Ganjar Minta Parpol Pendukung Wacana Kepala Daerah Dipilih

Pendiri Historia.id ini mengingatkan agar efisiensi anggaran tidak mengorbankan layanan publik dasar. Di sisi lain, Bonnie juga mengungkap kondisi memprihatinkan perpustakaan daerah. Berdasarkan data yang ia sampaikan, masih ada 19 kabupaten/kota dan lima provinsi baru yang belum memiliki perpustakaan.

"Saya datang ke sana, koleksinya disimpan di satu ruangan tanpa pendingin; lembab. Kita tahu kondisi kelembapan tinggi di Indonesia, buku harus dirawat," ujarnya.

"Bonnie meminta Perpusnas membimbing perpustakaan daerah agar standar perawatan terpenuhi.

Perhatian khusus juga disampaikan untuk perpustakaan tokoh bangsa. "Perpustakaan Bung Karno dan Bung Hatta ini juga tolong diperhatikan," kata Bonnie.

Bonnie mencontohkan perpustakaan pribadi Bung Hatta di Jalan Proklamasi yang memerlukan perhatian, serta mendorong akses publik untuk koleksi buku Bung Karno yang tersebar di Istana Bogor dan Balai Kirti.

"Sebagian buku Bung Karno ada di Istana Bogor, sebagian ada di Balai Kirti. Itu buku-buku yang beliau bawa ketika diasingkan," jelasnya.

Baca: Ganjar Pranowo Tak Ambil Pusing Elektabilitas Ditempel Ketat

Politikus yang pernah menjadi kurator di Rijksmuseum Amsterdam ini mendorong komunikasi agar koleksi itu bisa dibuka untuk publik sebagai sumber pengetahuan sejarah.

Merespon keberhasilan repatriasi 42 naskah kuno Nusantara dari Australia, Bonnie menyambut baik langkah mendekolonisasi pengetahuan tersebut. Namun, ia mempertanyakan kesiapan anggaran untuk perawatan manuskrip-manuskrip berharga itu.

"Ketika saya lihat anggaran, kira-kira sanggup enggak merawat naskah-naskah kuno yang dipulangkan tadi? Kita saja kadang tidak mampu merawat karena keterbatasan anggaran," tandasnya, seraya menekankan pentingnya prioritas perawatan dan produksi pengetahuan dari naskah yang direpatrias.

Quote