Surabaya, Gesuri.id – Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, memberikan catatan kritis pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Sabtu (2/5).
Ia menegaskan bahwa sistem pendidikan saat ini harus bertransformasi untuk melahirkan generasi yang memiliki sensitivitas sosial tinggi, bukan sekadar mengejar keunggulan akademik.
Menurut Untari, dunia saat ini tengah dikepung perubahan besar, mulai dari krisis iklim dan ketimpangan ekonomi hingga disrupsi teknologi. Tanpa fondasi karakter yang kuat, dunia pendidikan berisiko melahirkan generasi individualistik yang terjebak dalam arus dehumanisasi.
Baca: Terobosan dan Torehan Segudang Prestasi Ganjar Pranowo
"Anak-anak kita tidak cukup hanya pintar secara akademik. Mereka harus peka terhadap lingkungan, peduli pada masyarakat, dan memiliki tanggung jawab kebangsaan," tegas Untari.
Untari menilai, tolok ukur keberhasilan pendidikan tidak boleh lagi hanya terpaku pada angka kelulusan atau skor ujian. Pendidikan yang terlalu kompetitif justru dinilai menjauhkan siswa dari realitas sosial.
Ia menyoroti ironi data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur per Februari 2025. Meski tingkat pengangguran terbuka berada di angka 3,61 persen, lulusan SMK dan perguruan tinggi justru mendominasi angka tersebut. Hal ini, menurutnya, menjadi sinyal adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara kurikulum dengan kebutuhan riil masyarakat.
"Pendidikan terlalu lama diarahkan untuk mencetak pencari kerja, bukan pencipta solusi. Jika lulusan tidak peduli kemiskinan atau mudah terprovokasi hoaks, berarti ada yang salah dalam sistem kita," imbuhnya.
Sebagai solusi, politisi PDI Perjuangan ini mendorong penguatan kurikulum yang berbasis praktik sosial. Siswa perlu diterjunkan langsung ke lapangan untuk memahami problematika petani, nelayan, hingga isu kemiskinan.
Melalui interaksi langsung, ilmu pengetahuan yang didapat di bangku sekolah diharapkan mampu menjadi instrumen pemecah masalah.
Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo
"Ilmu harus digunakan untuk menjawab persoalan hidup. Dari situlah empati dan kepedulian tumbuh," jelasnya.
Di sisi lain, Untari mengingatkan bahwa visi "Generasi Emas" tidak akan tercapai tanpa memperhatikan garda terdepan pendidikan, yakni para guru. Ia menekankan bahwa kualitas dan kesejahteraan guru harus menjadi prioritas utama pemerintah.
"Tidak mungkin kita bicara generasi emas jika gurunya belum dimuliakan," cetusnya.
Menutup pernyatannya, Untari mengingatkan bahwa puncak bonus demografi dalam dua dekade mendatang adalah pedang bermata dua. Jika pendidikan gagal membentuk generasi yang kolaboratif dan matang secara emosional, Indonesia justru terancam menghadapi konflik sosial dan ledakan pengangguran. Sebaliknya, jika berhasil, bonus demografi akan menjadi tiket emas menuju status negara maju..

















































































