Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Deni Wicaksono, untuk menyoroti persoalan klasik pendidikan yang belum sepenuhnya terurai.
Diantaranya ketimpangan kualitas pendidikan dan kesiapan digital di berbagai wilayah.
Menurut Deni, disparitas mutu pendidikan masih tampak jelas antara kawasan perkotaan dan daerah pinggiran. Sekolah di kota dinilai relatif lebih siap, baik dari sisi fasilitas, tenaga pendidik, maupun dukungan teknologi. Sebaliknya, sejumlah wilayah masih bergulat dengan keterbatasan sarana dasar hingga akses internet.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
“Hardiknas ini seharusnya jadi momen refleksi. Kualitas pendidikan kita belum merata,” ujarnya, Sabtu (2/5).
Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur itu mengungkapkan data menunjukkan, Jawa Timur memiliki sekitar 345.454 guru dari jenjang SD hingga SMK. Angka ini mencerminkan besarnya ekosistem pendidikan di provinsi dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Indonesia tersebut. Namun, distribusi tenaga pendidik dinilai belum ideal.
Ketimpangan ini bukan sekadar soal jumlah, tetapi juga kualitas dan persebaran. Sekolah-sekolah di daerah terpencil masih kekurangan guru dengan kompetensi tertentu, sementara di kota terjadi penumpukan.
Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ribuan sekolah dasar tersebar di seluruh kabupaten/kota dengan jutaan siswa aktif. Skala besar ini, kata Deni, harus diimbangi dengan pemerataan mutu agar tidak melahirkan kesenjangan pendidikan jangka panjang.
Dari sisi anggaran, Pemprov Jawa Timur telah mengalokasikan sekitar Rp9,9 triliun untuk sektor pendidikan pada APBD 2025 atau setara 32,8 persen. Angka tersebut terbilang signifikan, bahkan melampaui amanat konstitusi minimal 20 persen.
Namun, Deni menilai besarnya anggaran belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kualitas di lapangan. Ia menekankan pentingnya efektivitas penggunaan anggaran agar tepat sasaran.
Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo
“Anggaran besar harus berdampak langsung ke sekolah dan siswa, bukan sekadar angka,” tegasnya.
Padahal, tren pendidikan global menuntut integrasi teknologi dalam proses belajar mengajar. Tanpa kesiapan infrastruktur dan SDM, kesenjangan justru berpotensi semakin melebar.
“Masih ada sekolah kesulitan akses internet. Ini realita yang tidak bisa diabaikan,” kata Deni.
Isu kebijakan penghapusan jurusan di jenjang pendidikan menengah juga ikut disorot. Ia mengingatkan agar perubahan sistem tersebut dikaji secara matang, agar tidak membingungkan siswa dalam menentukan arah pendidikan dan karier.

















































































