Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, meminta pemerintah tidak hanya berpatokan pada ketersediaan stok pangan nasional. Menurut dia, stok yang ada harus diikuti harga yang bisa dijangkau masyarakat di pasar.
“Pangan tidak cukup hanya tersedia, tetapi harus terjangkau. Ketika harga berbagai kebutuhan pokok masih tinggi, pemerintah perlu memastikan stabilisasi berjalan dari hulu sampai ke pasar,” kata Sonny, dikutip Jumat (25/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan Sonny menyusul harga sejumlah komoditas pangan di tingkat pedagang eceran nasional.
Mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia pada Selasa (22/9), harga cabai rawit merah mencapai Rp95.000 per kilogram. Telur ayam ras berada di angka Rp30.000 per kilogram.
Harga cabai merah keriting tercatat Rp70.050 per kilogram, cabai rawit hijau Rp68.200 per kilogram, dan cabai merah besar Rp57.650 per kilogram. Bawang merah dijual Rp37.450 per kilogram, sedangkan bawang putih Rp39.090 per kilogram.
Untuk beras, harga kualitas bawah berada pada kisaran Rp14.700 hingga Rp14.900 per kilogram. Beras kualitas medium dijual Rp16.400-Rp16.600 per kilogram, sementara beras kualitas super berada pada kisaran Rp17.350-Rp17.900 per kilogram.
Harga minyak goreng curah tercatat Rp20.400 per liter. Minyak goreng kemasan bermerek dijual antara Rp23.500 hingga Rp24.350 per liter. Adapun gula pasir lokal berada di angka Rp19.150 per kilogram, sedangkan gula kualitas premium Rp20.350 per kilogram.
Sonny menilai harga di pasar perlu menjadi perhatian pemerintah, terutama apabila tidak sejalan dengan harga yang diterima petani dan peternak di tingkat produksi. Karena itu, menurut dia, persoalan distribusi pangan perlu dilihat secara menyeluruh.
Pemerintah perlu menelusuri jalur distribusi dari sentra produksi hingga pasar. Biaya angkut, distribusi antardaerah, serta pembentukan harga di tingkat pengecer harus diperiksa agar beban harga tidak hanya ditanggung konsumen.
“Kalau masyarakat membeli dengan harga mahal, sementara petani dan peternak juga belum menikmati harga yang layak, berarti ada mata rantai yang harus dibenahi. Jangan sampai beban paling besar justru dipikul rakyat dan produsen kecil,” ujarnya.
Sonny meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah memperkuat pemantauan komoditas yang kerap bergejolak, terutama cabai, telur, beras, dan minyak goreng. Kebijakan stabilisasi, kata dia, harus menjaga harga di tingkat konsumen tanpa mengorbankan petani, peternak, maupun nelayan.
Menurut Sonny, ketahanan pangan tidak cukup diukur dari angka produksi atau kapasitas gudang. Ukurannya juga terletak pada kemampuan masyarakat memperoleh pangan dengan harga yang sesuai dengan daya belinya.

















































































