Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi III DPR RI dapil Bali, I Nyoman Parta, meminta masyarakat tidak membakar sampah menyusul kebijakan TPA Suwung yang berhenti menerima sampah organik sejak 1 April 2026. Imbauan ini disampaikan di tengah maraknya aksi pembakaran sampah oleh warga di sejumlah kawasan, termasuk Denpasar Utara.
"Jika panik sekali kita mengurus sampah, minta tolong jangan dibakar. Jika boleh memilih, lebih baik taruh di depan rumah, kelihatan kotor. Daripada dibuang di sungai atau dibakar yang akan merusak anak-anak balita, ibu hamil, dan lansia," ujar Nyoman Parta di Denpasar, dikutip Senin (13/4/2026).
Diketahui pada Sabtu (11/4/2026) petang menunjukkan kepulan asap di beberapa titik akibat aktivitas warga yang membakar limbah rumah tangga. Kondisi ini terjadi sebagai respons atas penumpukan sampah sejak pembatasan operasional TPA Suwung.
Nyoman Parta menjelaskan, pembakaran sampah saat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan masa lalu. Pasalnya, komposisi sampah modern didominasi residu dan plastik yang mengandung zat beracun.
Ia mengingatkan bahwa pembakaran limbah plastik dapat menghasilkan dioksin dan mikroplastik yang berbahaya bagi kesehatan manusia, terutama kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia.
"Oleh karena itu, ketika ngambek, panik, dan marah, jangan bakar sampah," katanya.
Sementara itu, Wayan Koster menegaskan akan melakukan penindakan terhadap warga yang membakar sampah residu. Namun, ia menekankan bahwa pembakaran bahan alami seperti kayu kering masih diperbolehkan.
"Saya dengar ada yang membakar sampah, tapi perlu dicek juga. Kalau kayu dibakar itu tidak ada masalah. Kalau yang dibakar sampah residu atau jenis lain, itu yang dilarang," ujar Koster.
Pemerintah Provinsi Bali sendiri telah melakukan evaluasi pengelolaan sampah bersama Kementerian Lingkungan Hidup, khususnya untuk wilayah Badung dan Denpasar.
Sejak penutupan praktik open dumping di TPA Suwung pada akhir Desember 2025, pemerintah terus mendorong pengelolaan sampah mandiri oleh masyarakat. Namun keterbatasan fasilitas dan kebingungan warga masih memicu penumpukan sampah di berbagai titik.

















































































